
Perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel telah memengaruhi harga emas, yang sempat mengalami penurunan. Hal ini berbeda dari tren sebelumnya di mana harga emas cenderung naik. Meski saat ini harga emas bergerak fluktuatif, investasi dalam instrumen emas masih dianggap sebagai pilihan yang tepat.
Andy Nugroho, perencana keuangan, menilai bahwa investasi emas tetap layak dilakukan meskipun harga sedang turun. Ini karena emas memiliki fungsi sebagai pelindung nilai terhadap kekayaan dalam bentuk mata uang. “Namun di balik fenomena tersebut, bila kita kembalikan ke fungsi dan kelaziman investasi emas, maka emas tetap worth it sebagai instrumen investasi yang patut dikoleksi,” kata Andy.
Selain itu, emas merupakan instrumen investasi jangka menengah sampai panjang. Untuk mendapatkan keuntungan dari emas, investor perlu bersabar karena prosesnya tidak instan. Andy juga memberi peringatan tentang risiko kerugian jika membeli emas saat harganya tinggi lalu menjualnya saat terjadi koreksi.
“Justru apabila saat ini kondisinya merugi karena harganya turun, maka bila kita jual maka kita akan merealisasikan kerugian tersebut. Tapi semisal tujuannya adalah untuk melakukan cut loss, maka hal tersebut akan menjadi sah-sah saja,” ujarnya.
Dalam situasi geopolitik seperti ini, Andy menyarankan untuk mencari alternatif investasi. Ia menyarankan Surat Utang Negara seperti ORI maupun Sukuk Ritel sebagai pilihan. Instrumen ini memberikan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan deposito, namun dengan risiko yang lebih rendah dibandingkan pasar saham. Selain itu, investasi di pasar uang juga bisa menjadi pilihan.
“Selain itu, bisa juga masuk ke reksadana berbasis pasar uang, karena reksadana ini adalah yang masih mampu memberikan imbal hasil positif walaupun dengan risiko lebih tinggi dibandingkan dengan SUN,” tambah Andy.
Mike Rini Sutikno, perencana keuangan lainnya, menjelaskan bahwa hakikat investasi emas adalah jangka menengah sampai panjang. Maka dari itu, ketika harga emas sempat terkoreksi akibat perang, ia menyarankan agar investor tidak langsung menjual emas.
“Jadi untuk emas ini bisa di hold saja. Jadi tidak perlu harus panik (selling), di hold. Karena penurunan dalam jangka pendek ini biasanya trend emas itu memang dia naik dalam jangka panjang,” ujarnya.
Penurunan harga saat ini tidak perlu dikhawatirkan karena emas tetap memiliki fungsi sebagai pelindung nilai. Mike juga menekankan pentingnya diversifikasi instrumen investasi. Strategi ini tidak boleh hanya fokus pada satu jenis aset.
“Jadi strategi terbalik itu bukan 100 persen emas atau fokus pada emas aja, atau semuanya saham aja, tidak. Jadi melainkan kalau dari pendekatan perencanaan keuangan, berdasarkan fundamental investasi kita, kita membangun portofolio investasi sesuai dengan tujuan keuangan atau sesuai dengan rencana keuangan kita,” ujarnya.













