Pelaku Industri Padat Karya di Nganjuk Hadapi Tantangan Pasar Global
Di tengah dinamika pasar global yang terus berubah, khususnya akibat konflik di kawasan Timur Tengah, pelaku industri padat karya di Nganjuk, Jawa Timur, berhasil menunjukkan ketangguhan dalam menghadapi tantangan ekonomi yang sedang bergejolak. Salah satu perusahaan yang menjadi contoh adalah PT Mitra Saruta Indonesia, yang telah beroperasi selama lebih dari tiga dekade dan memiliki pengalaman dalam menghadapi situasi serupa sebelumnya.
Direktur PT Mitra Saruta Indonesia, Hoo Yanto Andrian, menjelaskan bahwa pihaknya sudah terbiasa dengan fluktuasi pasar internasional. “Kondisi yang sekarang ini (sudah) kita alami sebelumnya. Jadi sudah terbiasa menghadapi situasi seperti itu,” ujarnya saat menghadiri acara Site Visit dan Media Briefing Kementerian Keuangan dengan tema “Kemenkeu Dukung Sektor Padat Karya Dukung Pertumbuhan Ekonomi”.
Strategi Pemasaran yang Lebih Agresif
Menurut Yanto, pasar utama perusahaan saat ini masih berada di Jepang dan Amerika Serikat. Namun, strategi pemasaran kini lebih agresif dalam membuka pasar tradisional maupun kawasan baru. “Afrika Selatan sudah kita ekspor, Mesir juga sudah cukup lama. Beberapa negara Eropa yang sebelumnya menjadi pasar tradisional kita, termasuk Portugal dan Spanyol, masih berlangsung secara kontinu,” tambahnya.
Selain itu, Yanto juga menyoroti bagaimana perusahaan mampu bertahan selama masa pandemi Covid-19. Ia menyebutkan bahwa penurunan ekspor sempat mencapai 50 persen, namun dalam waktu empat bulan pemulihan sudah mencapai 40 hingga 80 persen, dan dalam satu tahun hampir kembali ke 90 persen.
“Recovery rate kita terhadap risiko-risiko tersebut cukup bagus. Kenapa itu bisa terjadi? Karena produk alternatif yang kita punya,” jelasnya. Produk alternatif ini menjadi solusi ketika pasar mencari substitusi yang lebih murah, baik di domestik maupun ekspor.

Peran Pemerintah dalam Mendukung Pelaku Ekspor
Sementara itu, Kepala Divisi NIA & Strategic Assignment Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), Berlianto Wibowo, menekankan peran negara dalam mendukung pelaku ekspor melalui program khusus. “Pemerintah memberikan salah satu program yang memberikan keuntungan melalui Indonesia Eximbank. Ini berbeda dengan pembiayaan komersial, yaitu National Interest Account atau penugasan khusus ekspor,” katanya.
Program ini mencakup sembilan inisiatif, termasuk diversifikasi pasar ke kawasan Afrika, Asia Selatan, Timur Tengah, Eropa Timur, dan Amerika Latin. Berlianto menambahkan LPEI juga memiliki program khusus untuk UKM agar lebih kompetitif di pasar global.
“Ini adalah langkah penting agar pelaku UKM dapat meningkatkan daya saing mereka dalam menghasilkan produksi,” ujarnya.
Perlindungan Risiko Gagal Bayar
Selain itu, LPEI juga menyediakan trade credit insurance untuk melindungi eksportir dari risiko gagal bayar akibat kondisi geopolitik. “Supaya para pelaku ekspor aman ketika mengekspor barang ke suatu negara. Karena kita sudah mengetahui apakah pembayarannya berisiko atau tidak,” jelasnya.
Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Direktorat Jenderal Pajak, Inge Diana Rismawanti, menambahkan isu likuiditas juga menjadi perhatian penting. “Untuk menjaga likuiditas para eksportir ini, mungkin ada skema atau biaya yang disiapkan LPEI, seperti relaksasi kredit atau restrukturisasi,” ujarnya.
Menurutnya, langkah ini dapat melengkapi instrumen yang sudah ada, seperti credit insurance, sehingga eksportir tetap aman meski menghadapi risiko gagal bayar. Ia menekankan dukungan likuiditas menjadi kunci agar eksportir mampu bertahan di tengah ketidakpastian global.












