Forum CMO ASEAN: Membangun Sistem Royalti yang Lebih Adil dan Transparan
Forum CMO ASEAN 2026 di Bali menjadi momen penting dalam upaya memperbaiki tata kelola royalti musik digital. Pertemuan ini bertujuan untuk memastikan sistem global lebih adil, melindungi para kreator dari praktik royalty black box, serta memastikan setiap pemegang hak menerima remunerasi yang layak.
Forum ini merupakan kegiatan pertama yang mengumpulkan Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) atau Collective Management Organization (CMO) se-ASEAN. Hadir dalam forum tersebut perwakilan negara-negara Asean seperti Malaysia, Filipina, dan Thailand, serta beberapa LMK Indonesia seperti KCI, WAMI, dan Selmi. Selain itu, hadir pula Direktur Regional Asia-Pasifik untuk CISAC (International Confederation of Societies of Authors and Composers), Benjamin Ng.
Menteri Hukum Republik Indonesia, Supratman Andi Agtas, menjelaskan bahwa pemerintah tidak akan terlibat langsung dalam pengelolaan royalti, tetapi sebagai regulator yang mengawasi tata kelolanya. Ia menekankan bahwa Indonesia sedang melakukan proses perubahan Undang-undang Hak Cipta dan berharap masukan dari organisasi global seperti CISAC dan IFPI.
Perkembangan Platform Digital dan Tantangan yang Muncul
Perkembangan pesat platform digital telah mengubah lanskap industri musik secara fundamental. Namun, kondisi ini belum sepenuhnya diiringi dengan sistem distribusi royalti yang akurat bagi para kreator. Supratman menyebutkan bahwa tingginya volume konsumsi tidak selalu berbanding lurus dengan distribusi royalti yang akurat.
Tantangan tata kelola royalti digital bersifat lintasbatas dan tidak dapat diselesaikan oleh satu negara saja. Oleh karena itu, diperlukan langkah kolektif di tingkat kawasan untuk menjawab persoalan tersebut. “Karena tantangan ini bersifat lintas batas, hal ini tidak lagi dapat diselesaikan oleh satu yurisdiksi saja. Kita harus bergerak sebagai satu kawasan,” tegasnya.
Inisiatif Indonesia dalam Menyusun Dokumen Strategis
Indonesia berinisiatif untuk mendorong penyusunan dokumen strategis Elements for a Possible International Instrument on the Governance of Copyright Royalty in the Digital Environment. Dokumen ini akan diusulkan sebagai agenda utama pada Sidang Standing Committee on Copyright and Related Rights (SCCR) ke-48 di World Intellectual Property Organization (WIPO).
Tujuan dari inisiatif ini adalah membangun sistem royalti global yang lebih transparan dan berkeadilan. Upaya ini juga diarahkan untuk melindungi para kreator dari praktik black box royalty. “Tujuan kita adalah untuk memastikan sistem global ini menjadi lebih adil, untuk melindungi para kreator kita dari royalty black box, serta memastikan setiap pemegang hak menerima remunerasi yang berkeadilan,” jelas Supratman.
Tantangan dalam Tata Kelola Royalti Digital
Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual Hermansyah Siregar menjelaskan bahwa eksploitasi karya musik kini berlangsung secara real-time lintas yurisdiksi. Namun, kondisi tersebut belum diimbangi dengan sistem distribusi royalti yang akurat. “Eksploitasi karya musik terjadi secara simultan di berbagai yurisdiksi dalam waktu nyata, tetapi hal tersebut tidak selalu diikuti dengan distribusi royalti yang akurat,” ungkapnya.
Hermansyah menambahkan bahwa ketimpangan infrastruktur teknologi dan fragmentasi metadata hak cipta menjadi tantangan utama dalam tata kelola royalti digital. Kondisi ini juga memicu kebocoran pendapatan yang berdampak pada hak ekonomi para kreator di kawasan.
Fokus Utama Forum CMO ASEAN
Melalui forum ini, Indonesia mendorong harmonisasi standar metadata karya cipta serta penguatan posisi tawar CMO dalam negosiasi dengan platform digital global. Selain itu, integrasi sistem royalti digital di kawasan ASEAN juga menjadi fokus utama.
Kehadiran para pemangku kepentingan global ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi lintas negara dan memperkaya pertukaran praktik terbaik. Sebagai langkah keberlanjutan, Indonesia mendorong agar forum ini dapat diselenggarakan secara rutin setiap tahun dengan mekanisme kepemimpinan bergilir. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat solidaritas kawasan sekaligus memastikan keberlanjutan reformasi tata kelola royalti digital.
Peran Indonesia dalam Membangun Sistem Royalti yang Lebih Baik
Melalui forum ini, Indonesia menegaskan perannya sebagai penggerak dalam membangun sistem royalti digital yang lebih adil, transparan, dan berkelanjutan. Dengan komitmen kuat dan kerja sama lintas negara, diharapkan tata kelola royalti dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi para kreator dan pemegang hak di kawasan ASEAN.












