Kisah Suka Duka Para Penjual di Lapangan Kodam V/Brawijaya
Di tengah keramaian warga yang berburu takjil saat bulan Ramadan, ada sejumlah penjual yang justru mengalami keuntungan dan kerugian. Salah satu dari mereka adalah Mariadi (45), seorang penjual sate yang rutin berjualan di Pasar Kodam Brawijaya, Surabaya, Jawa Timur.
Peningkatan Penjualan Selama Ramadan
Mariadi menjelaskan bahwa bazar takjil menjadi agenda tahunan di lokasi tersebut. Selama bulan Ramadan, jam operasional pasar diperpanjang hingga pukul 22.00 WIB, bahkan pada akhir pekan bisa sampai pukul 23.00 WIB. Ia menyebutkan bahwa penjualan meningkat hingga dua kali lipat dibanding hari biasa.
“Kalau hari biasa saya bawa sekitar 100 tusuk, kalau Ramadhan gini bisa sampai 200 sampai 250 tusuk pasti habis,” ujarnya. Berbagai jenis sate seperti cumi, gurita, sosis, siomay, scallop, dan pentol disajikan dengan saus sesuai pilihan pembeli. Harga per tusuk berkisar antara Rp 5.000 hingga Rp 10.000.
Namun, tantangan terbesar yang dihadapi Mariadi adalah cuaca buruk. Saat hujan deras, ia harus menutup lapak lebih awal karena khawatir korsleting listrik. Hal ini sering menyebabkan kerugian.
Kerugian Akibat Cuaca Buruk
Alda (32), penjual sempol dan telur gulung, juga mengalami hal serupa. Ia mengatakan bahwa beberapa hari terakhir ia harus menutup dagangannya lebih awal karena hujan deras. “Kadang kita sudah bayar full listrik, tapi jam 21.30 WIB sudah tutup,” ujarnya.
Alda menyebutkan bahwa pengunjung biasanya ramai pada dua minggu terakhir Ramadan, namun jumlah tersebut terus menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ia merasa persaingan semakin ketat, sehingga pendapatan tidak sebesar dulu. “Sekarang dapat Rp 200.000 itu saja susah banget. Kalau sebelum Covid-19 bisa dua, tiga kali lipatnya,” kata Alda.
Meski mengalami kerugian hingga hampir Rp 2 juta setiap bulan, Alda tetap bertahan demi keluarganya. “Mau gimana lagi juga, walaupun tiap bulannya rugi selalu hampir Rp 2 juta, tapi ya saya hanya bisa hidup bantu-bantu keluarga dari ini,” tambahnya.
Gerakan Pangan Murah di Ciamis
Selain kisah para penjual di Surabaya, ada juga informasi tentang Gerakan Pangan Murah yang digelar di Alun-alun Ciamis, Jawa Barat. Acara ini menarik antusiasme tinggi dari warga, terutama ibu-ibu yang membeli sembako dengan harga lebih murah dibanding pasar.
Dedeh, salah satu warga, mengaku membeli beras, daging, dan telur di bazar tersebut. “Untuk beras dan telur, selisih harga bazar dengan pasar sekitar Rp 2.500. Kalau daging beda jauh, di sini Rp 100 ribuan, di pasar Rp 160 ribu,” ujarnya.
Yoyoh, warga lainnya, membeli daging dan minyak goreng. Harga minyak goreng di bazar lebih murah, yaitu Rp 30 ribu per dua liter, sedangkan di pasar sekitar Rp 35 ribu. “Cukup membantu, harganya murah,” kata Yoyoh.
Sementara itu, Kapolres Ciamis, AKBP Hidayatullah, menyatakan bahwa antusiasme warga cukup tinggi terhadap acara ini. Ia berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat dan meringankan beban masyarakat. “Untuk pelaksanaan, rencananya maksimal 3 hari,” ujarnya.












