Inflasi Pangkalpinang Turun Jadi 3 Persen di Februari 2026

Inflasi Tahunan di Pangkalpinang pada Februari 2026

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, mencatat bahwa inflasi tahunan (year on year/yoy) di Pangkalpinang pada Februari 2026 sebesar 3 persen. Hal ini terjadi karena kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 104,06 pada Februari 2025 menjadi 107,18 pada Februari 2026.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi yoy pada Januari 2026 yang mencapai 3,69 persen. Kepala BPS Kota Pangkalpinang, Dewi Savitri, menjelaskan bahwa inflasi yoy terjadi akibat kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran.

Kelompok Pengeluaran dengan Kenaikan Harga Terbesar

Kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga mencatat kenaikan tertinggi sebesar 16,64 persen. Disusul oleh kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan kenaikan sebesar 3,12 persen. Selain itu, kelompok kesehatan mengalami inflasi sebesar 2,12 persen, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 2,29 persen, serta kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,18 persen.

Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mengalami inflasi sebesar 1,08 persen, sementara kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami inflasi sebesar 0,29 persen. Sementara itu, kelompok pakaian dan alas kaki hanya mengalami inflasi sebesar 0,02 persen.

“Secara umum, kenaikan harga terjadi di sebagian besar kelompok pengeluaran, terutama pada komoditas energi dan pangan,” ujar Dewi saat memaparkan Berita Resmi Statistik (BRS) Perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) di ruang pertemuan kantor BPS Kota Pangkalpinang, Senin (2/3/2026).

Kelompok Pengeluaran dengan Deflasi

Tiga kelompok pengeluaran tercatat mengalami deflasi yoy, yakni kelompok pendidikan sebesar 10,53 persen, kelompok transportasi sebesar 0,81 persen, serta kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,27 persen.

Badan Pusat Statistik Kota Pangkalpinang mencatat bahwa kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga memberikan andil inflasi terbesar secara yoy, yakni 2,26 persen. Disusul oleh kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,01 persen.

Kelompok lainnya yang turut menyumbang inflasi antara lain perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,14 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,09 persen, kesehatan sebesar 0,05 persen, serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan, serta rekreasi masing-masing sebesar 0,02 persen.

Sebaliknya, kelompok pendidikan memberikan andil deflasi terbesar sebesar 0,47 persen, diikuti transportasi sebesar 0,11 persen dan perlengkapan rumah tangga sebesar 0,01 persen.

Komoditas yang Mendorong Inflasi

Sejumlah komoditas tercatat dominan mendorong inflasi tahunan. Di antaranya, tarif listrik, daging ayam ras, emas perhiasan, beras, cabai rawit, bawang merah, sewa rumah, serta susu bubuk untuk balita. Komoditas perikanan seperti ikan selar, ikan tenggiri, ikan dencis, ikan manyung, ikan singkur, dan cumi-cumi juga memberikan kontribusi terhadap inflasi.

Selain itu, sigaret putih mesin (SPM), sigaret kretek mesin (SKM), sate, jus buah siap saji, hingga mobil turut menyumbang kenaikan harga.

“Adapun komoditas yang menahan inflasi atau menyumbang deflasi y-on-y antara lain tarif sekolah menengah atas, angkutan udara, bensin, cabai merah, udang basah, popok bayi sekali pakai, serta sejumlah komoditas hortikultura seperti bayam, wortel, kangkung, kentang dan bawang putih,” tutur Dewi.

Inflasi Tahunan Masih Terkendali

Dewi menyebut bahwa inflasi tahunan berada di angka 3,00 persen tersebut masih mencerminkan tekanan harga yang relatif terkendali. Namun, lonjakan pada kelompok perumahan dan energi menjadi perhatian utama, mengingat dampaknya langsung terhadap daya beli masyarakat.

Deflasi Bulanan

Secara bulanan (month to month/m-to-m), Pangkalpinang mengalami deflasi sebesar 0,44 persen pada Februari 2026. Adapun secara tahun kalender (year to date/y-to-d), terjadi deflasi sebesar 0,33 persen dibandingkan Desember 2025.

Deflasi bulanan tersebut menunjukkan adanya penurunan harga sejumlah komoditas pada Februari dibandingkan Januari 2026, terutama komoditas pangan segar dan energi.

Komoditas yang Dominan Menyumbang Deflasi

Secara bulanan, komoditas yang dominan menyumbang deflasi m-to-m antara lain ikan tenggiri, bayam, ikan singkur, kangkung, cumi-cumi, bensin dan udang basah. Sementara komoditas yang mendorong inflasi bulanan di antaranya daging ayam ras, cabai rawit, emas perhiasan, angkutan udara, sepeda motor, serta susu bubuk untuk balita.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *