Badan Pangan Waspadai Kenaikan Harga Beras dan Gula Akibat Krisis Plastik



Badan Pangan Nasional (Bapanas) memberikan peringatan terkait potensi kenaikan harga beras dan gula akibat gangguan pasokan bahan baku plastik. Dampak ini mulai dirasakan oleh pelaku usaha pangan strategis, terutama sektor beras dan gula yang sangat bergantung pada kemasan karung plastik. Harga kedua komoditas tersebut telah meningkat hingga Rp 350 per kilogram.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menjelaskan bahwa fluktuasi harga plastik mulai memengaruhi bisnis pangan. Menurutnya, biaya plastik meningkat karena biji plastik merupakan hasil dari pengolahan minyak bumi yang berasal dari wilayah Timur Tengah.

“Beberapa pelaku usaha mengalami kenaikan harga, salah satunya adalah plastik,” ujar Ketut dalam keterangan resmi.

Bapanas telah mengumpulkan masukan dari pelaku usaha dan melakukan perhitungan dampak kenaikan biaya plastik terhadap harga pangan. Hasilnya menunjukkan bahwa biaya produksi beras diperkirakan naik sekitar Rp 350 per kilogram, sedangkan untuk gula sekitar Rp 150 per kilogram.

Meski ada kenaikan, berdasarkan pemantauan Bapanas, harga beras dan gula secara nasional masih relatif terkendali dalam sebulan terakhir. Kenaikan yang terjadi belum mencapai tingkat signifikan.

Per 16 April, rata-rata harga beras medium masih berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET). Di Zona I, harga beras nyaris stagnan dari Rp 12.964 per kg menjadi Rp 12.965 per kg. Zona II mengalami kenaikan tipis sebesar 0,27 persen dari Rp 13.585 menjadi Rp 13.622 per kg. Sementara itu, harga di Zona III meningkat 0,65 persen dari Rp 15.056 menjadi Rp 15.154 per kg.

Sementara itu, harga gula menunjukkan tren yang beragam. Secara nasional di wilayah barat Indonesia, harga naik 2,06 persen dari Rp 18.240 menjadi Rp 18.615 per kg. Namun di Indonesia Timur justru turun 1,22 persen dari Rp 20.412 menjadi Rp 20.163 per kg.

Ketut menegaskan bahwa Bapanas akan memperkuat koordinasi lintas kementerian untuk mencegah tekanan harga semakin besar. Rencananya, Bapanas akan menggelar rapat bersama kementerian terkait guna mencari solusi atas keterbatasan pasokan plastik.

“Karena meskipun terlihat kecil, kenaikan Rp 350 per kilogram tetap berpengaruh pada harga akhir,” katanya.

Koordinasi ini akan melibatkan Kementerian Perindustrian Republik Indonesia dan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia untuk memastikan ketersediaan bahan baku plastik bagi sektor pangan tetap terjaga.

Di sisi lain, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menjamin ketersediaan stok plastik dalam negeri. Pemerintah telah mempertemukan pelaku industri hulu hingga hilir, termasuk sektor daur ulang, untuk menyusun langkah mitigasi bersama.

“Dari hasil pertemuan, kami mendapatkan jaminan bahwa stok plastik seharusnya tidak ada masalah. Namun, pemerintah tetap memantau perkembangan situasi global secara cermat,” kata Agus. Dia menambahkan bahwa industri berkomitmen menjaga kesinambungan suplai plastik, terutama untuk pelaku usaha kecil agar tetap kompetitif.

Gejolak geopolitik di kawasan Selat Hormuz turut memicu kenaikan biaya logistik dan pengiriman bahan baku plastik. Waktu pengiriman yang sebelumnya sekitar 15 hari kini bisa molor hingga 50 hari. Kondisi ini memperbesar beban biaya produksi dan berpotensi menekan harga pangan ke depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *