Bahaya Makanan Ultra Proses Sama Seperti Rokok, Tingkatkan Risiko Jantung dan Stroke



JAKARTA – Makanan ultra-olahan (UPF) kini semakin sering muncul dalam pola makan sehari-hari banyak orang. Namun, ternyata dampaknya tidak kalah berbahaya dibandingkan rokok, yang dapat menyebabkan berbagai penyakit serius.

Makanan ultra-proses (UPF) adalah produk industri yang diolah secara ekstrem dan mengandung tambahan lemak, gula, pati, garam, serta bahan kimia seperti pengemulsi. Contoh pangan UPF yang umum antara lain minuman soda, makanan ringan kemasan, dan daging olahan. Selama proses produksi, banyak nutrisi alami justru hilang, sehingga membuat makanan ini sangat berbeda dari bentuk aslinya.

Bahan-bahan dalam makanan ini seringkali belum pernah ditemui oleh tubuh manusia sebelumnya. Berdasarkan beberapa studi, makanan ultra-olahan mencakup hampir 60% dari rata-rata diet orang dewasa di Amerika Serikat dan sekitar 70% dari diet anak-anak.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa konsumsi makanan ultra-proses dalam jumlah besar meningkatkan risiko sindrom metabolik. Kondisi ini meliputi kelebihan berat badan, obesitas, tekanan darah tinggi, kadar kolesterol abnormal, dan resistensi insulin. Selain itu, konsumsi makanan ultra-proses juga dikaitkan dengan peningkatan kadar protein C-reaktif sensitivitas tinggi, yaitu penanda peradangan yang menjadi prediktor kuat penyakit kardiovaskular (PJK), termasuk serangan jantung dan stroke.

Namun, data yang terbatas masih menghambat pemahaman langsung tentang hubungan antara asupan UPF dan risiko PJK. Dengan meningkatnya konsumsi makanan ultra-olahan dan PJK yang tetap menjadi salah satu penyebab utama kematian global, penting untuk memahami hubungan tersebut lebih dalam.

Sebuah studi dari Charles E. Schmidt College of Medicine di Florida Atlantic University, yang diterbitkan di The American Journal of Medicine, menunjukkan bahwa konsumsi makanan ultra-olahan yang tinggi bisa memiliki konsekuensi kardiovaskular yang serius. Tim peneliti menganalisis data Survei Kesehatan dan Gizi Nasional AS (NHANES) dari 4.787 orang dewasa berusia 18 tahun ke atas, yang dikumpulkan antara tahun 2021 dan 2023.

Semua peserta memberikan catatan diet terperinci selama dua hari dan menjawab apakah mereka pernah mengalami serangan jantung atau stroke. Peneliti kemudian menghitung persentase total kalori yang berasal dari makanan ultra-olahan.

Dengan sistem klasifikasi makanan yang telah divalidasi, individu dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan tingkat konsumsi UPF mereka. Hasilnya menunjukkan bahwa individu dalam kelompok konsumsi UPF tertinggi memiliki risiko penyakit kardiovaskular 47% lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok konsumsi terendah.

Sama Bahaya dengan Tembakau

Para peneliti juga mencatat bahwa kesadaran akan bahaya makanan ultra-olahan mungkin berkembang seperti kesadaran terhadap rokok pada abad lalu. Seperti bahaya rokok yang butuh waktu bertahun-tahun untuk dipahami, mengurangi ketergantungan pada makanan ultra-olahan juga mungkin membutuhkan waktu. Hal ini disebabkan oleh pengaruh perusahaan multinasional yang mendominasi pasar makanan.

Selain itu, banyak orang menghadapi keterbatasan akses terhadap pilihan makanan yang lebih sehat. Ini menunjukkan kebutuhan solusi kesehatan masyarakat yang lebih luas. Menurut Hennekens, “mengatasi makanan tidak sehat bukan hanya tentang pilihan individu, tetapi juga menciptakan lingkungan di mana pilihan sehat menjadi mudah diakses.”

Ke depan, diperlukan panduan klinis dan pendidikan kesehatan masyarakat agar makanan bergizi bisa diakses dan terjangkau bagi semua. Peneliti juga mencatat peningkatan angka kanker kolorektal di AS, terutama di kalangan dewasa muda, yang terkait dengan konsumsi UPF.

Banyak faktor risiko kanker kolorektal tumpang tindih dengan faktor risiko PJK, termasuk pola makan. “Peningkatan konsumsi UPF mungkin menjadi salah satu penyebab, bersama dengan pengaruh gaya hidup lainnya,” kata Allison H. Ferris.

Meski uji coba acak berskala besar masih diperlukan untuk memastikan temuan ini, para peneliti menekankan bahwa layanan kesehatan dapat segera bertindak. Mereka merekomendasikan agar pasien mengurangi konsumsi makanan ultra-olahan sambil melakukan perubahan gaya hidup lain yang telah terbukti efektif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *