Delhi Belly: Bakteri Asing yang Ganggu Perut Saat Travelling

Mengapa Usus Kita Menjadi Lebih Sensitif Saat Bepergian ke Negara Lain?

Saat melakukan perjalanan ke negara lain, banyak orang mengalami masalah pencernaan seperti diare. Fenomena ini sering disebut dengan berbagai nama seperti “Indian Belly” di India, “Montezuma’s Revenge” di Meksiko, atau “Bali Belly” di Indonesia. Meski penduduk lokal dapat menikmati makanan dan minuman yang sama tanpa masalah, tubuh para wisatawan justru rentan terhadap gangguan.

Penyebab Diare Saat Berpergian

Diare saat bepergian biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri, seperti Escherichia coli (E. coli), yang menghasilkan racun. Selain itu, bakteri seperti Salmonella, Shigella, Campylobacter, atau parasit seperti Giardia juga bisa menjadi penyebabnya. Bakteri-bakteri ini masuk melalui air yang terkontaminasi, es, salad mentah, atau makanan yang tidak disimpan dengan baik.

Wisatawan dari negara-negara industri seringkali tidak memiliki antibodi terhadap kuman-kuman ini. Bahkan hanya satu jenis bakteri asing saja sudah cukup untuk mengganggu keseimbangan mikrobioma di usus. Selain itu, tubuh juga mengalami stres akibat perbedaan zona waktu, suhu yang tidak biasa, kurang tidur, dan pola makan yang berbeda. Hal ini melemahkan fungsi asam lambung, lapisan usus, serta sistem imun, sehingga memudahkan bakteri masuk.

Perubahan Mikrobioma Saat Berpindah Lingkungan

Mikrobioma, yaitu triliunan bakteri yang hidup di usus kita, juga berperan besar dalam proses adaptasi tubuh terhadap lingkungan baru. Mikroba ini terbiasa dengan pola makan dan lingkungan asal, sehingga perubahan mendadak bisa menyebabkan ketidakseimbangan. Studi pada migran dari Thailand menunjukkan bahwa mikrobioma dapat menyesuaikan diri dengan pola makan dan gaya hidup baru dalam waktu enam hingga sembilan bulan.

Namun, proses ini tidak selalu lancar. Bagi sebagian orang, adaptasi berjalan stabil, sementara yang lain bisa mengalami gangguan seperti diare dan kembung. Penggunaan antibiotik yang sering dilakukan oleh wisatawan saat gejala pertama muncul juga bisa menghancurkan flora usus lama, membuat bakteri yang lebih agresif dan resisten lebih dominan.

Apakah Penduduk Lokal Benar-Benar Kebal?

Anggapan bahwa penduduk lokal bisa makan apa saja tanpa sakit tidak sepenuhnya benar. Orang yang sejak kecil terpapar bakteri tertentu cenderung memiliki perlindungan alami. Sistem imun mereka telah mengenali patogen dengan lebih cepat, dan lapisan usus mereka terbiasa dengan paparan tertentu.

Kontak berulang dengan bakteri penyebab diare seperti Enterotoxigenic Escherichia coli (ETEC) dapat memberikan perlindungan sebagian, tetapi tidak sepenuhnya. Dalam studi terhadap anak-anak di Afrika Barat, infeksi ETEC menurunkan risiko infeksi ulang dengan serotip yang sama sekitar 47%, namun tidak melindungi dari varian lain.

Penduduk lokal juga bisa sakit karena amuba, E. coli, atau Giardia, tetapi gejalanya biasanya lebih ringan dan sering tidak dianggap sebagai penyakit. Faktor sosial juga berperan: rutinitas kerja harian membuat mereka jarang membicarakan soal diare, sedangkan wisatawan perlu mengubah rencana liburan jika mengalami gejala serupa.

Bisakah Tubuh Beradaptasi dengan Indian Belly?

Jawaban singkatnya adalah ya, tapi prosesnya lambat, tidak sempurna, dan berisiko. Sistem imun perlahan membangun pertahanan terhadap bakteri diare yang umum. Para ekspatriat yang tinggal lama di luar negeri bahkan bisa tetap memiliki perlindungan lebih baik beberapa tahun setelah kembali.

Namun, ada batasan. Kuman baru atau sangat agresif, jumlah bakteri yang banyak sekaligus, atau air yang sangat tercemar bisa tetap membuat orang sakit. Adaptasi ini juga bersifat reversibel. Dalam sebuah studi, mahasiswa AS yang pernah mengalami diare di Meksiko kehilangan proteksi tersebut sekitar dua bulan setelah kembali ke AS.

Faktor genetik juga memengaruhi respons imun dan penyerapan nutrisi, kemungkinan besar turut menentukan kerentanan terhadap infeksi usus.

Mengapa Orang dari India, Afrika, atau Asia Jarang Sakit di Eropa?

Diare wisatawan biasanya dialami orang dari negara maju yang bepergian ke wilayah dengan kualitas air dan makanan lebih rendah. Sebaliknya, Eropa Barat, Amerika Utara, atau Jepang termasuk wilayah risiko rendah dengan jumlah kuman lebih sedikit, air bisa diminum, dan keamanan makanan memiliki pengawasan ketat.

Selain itu, banyak orang dari India, Afrika, atau Asia sejak kecil sering terpapar patogen usus, sehingga sistem imun mereka lebih siap menghadapi kuman baru di Eropa. Oleh sebab itu, “Indian Belly” jarang terjadi pada mereka.

Tentu saja, orang non-Eropa juga bisa mengalami masalah pencernaan di Eropa, misalnya karena makanan busuk, Norovirus, makanan tidak biasa, atau stres.

Tips Praktis untuk Mencegah Diare Saat Berpergian

Tidak ada “perut ajaib” yang kebal bakteri. Wisatawan sebaiknya menghindari makanan atau minuman yang berisiko terkontaminasi, seperti:

  • Air mentah (ledeng), es, dan es krim
  • Buah atau sayur mentah yang telah dikupas
  • Daging atau ikan mentah atau setengah matang
  • Buffet makanan yang terbuka lama tanpa pendingin
  • Jus segar atau minuman fermentasi yang dicampur air ledeng atau disajikan dengan es

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *