Kinerja Ekspor Jepang pada 2025
Pada tahun 2025, kinerja ekspor Jepang masih mampu mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,1% secara tahunan. Hal ini terjadi meskipun terdapat gejolak kebijakan tarif yang diterapkan oleh Presiden AS Donald Trump. Data yang dirilis oleh Kementerian Keuangan Jepang menunjukkan bahwa peningkatan ekspor komponen elektronik dan produk makanan menjadi faktor utama dalam pertumbuhan tersebut.
Namun, pengiriman barang ke Amerika Serikat mengalami penurunan sebesar 4,1%. Penurunan ini terutama disebabkan oleh melemahnya ekspor mobil dan mesin pembuat semikonduktor. Angka ini menjadi yang terendah sejak 2016, di luar periode pandemi.
Sementara itu, ekspor ke Eropa serta Asia di luar China masih menunjukkan kinerja solid. Adapun pengiriman ke China hanya turun tipis sebesar 0,4% sepanjang tahun lalu. Secara bulanan, ekspor Jepang meningkat untuk bulan keempat berturut-turut pada Desember, karena permintaan dari China yang relatif stabil meskipun kedua negara tengah menghadapi sengketa diplomatik sejak tahun lalu. Namun, pengiriman ke AS kembali melemah, dipimpin oleh penurunan ekspor mobil.
Perkembangan Ekonomi dan Kebijakan Moneter
Kepala Ekonom Norinchukin Research Institute, Takeshi Minami, menyatakan bahwa meskipun ekspor Jepang tumbuh, kenaikan tersebut belum tentu berkelanjutan. Ia menilai adanya risiko geopolitik yang meningkat serta kemungkinan perlambatan konsumsi di AS.
Data perdagangan tersebut mencerminkan kondisi yang beragam dan mengindikasikan adanya risiko ke depan. Meskipun demikian, situasi ini diperkirakan tidak akan mengubah arah kebijakan moneter Bank of Japan (BOJ) yang masih berada di jalur kenaikan suku bunga secara bertahap.
BOJ diperkirakan akan menahan suku bunga acuannya pada Jumat (23/1/2026), setelah menaikkan suku bunga pada Desember lalu. Bank sentral menegaskan akan terus menaikkan suku bunga selama inflasi dan pertumbuhan ekonomi berjalan sesuai proyeksi.
Surplus Perdagangan dengan AS
Meskipun ada ancaman tarif dari AS, Jepang masih mencatatkan surplus perdagangan dengan AS pada 2025. Surplus tersebut mencapai ¥7,52 triliun atau sekitar US$47,5 miliar. Namun, angka tersebut menyusut 12,6% dibandingkan surplus pada 2024.
Tahun lalu, Jepang berhasil memperoleh penurunan tarif mobil AS setelah melalui negosiasi perdagangan selama berbulan-bulan. Selain itu, Jepang juga berhasil menghindari ancaman tarif yang lebih tinggi pada produk lain dengan berkomitmen meningkatkan investasi di AS. Namun, Trump masih memiliki kewenangan untuk kembali menaikkan tarif apabila Jepang gagal merealisasikan proyek investasi yang diinginkannya.
Perkembangan Perdagangan Global
Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada November lalu menyatakan bahwa perdagangan barang global melambat dalam tiga bulan hingga September. Hal ini terjadi setelah dorongan awal 2025 akibat percepatan pesanan menjelang penerapan tarif AS mulai memudar. Indeks barometer perdagangan barang WTO turun menjadi 101,8 pada September dari 102,2 pada Juni.
Menurut Minami, ekspor ke AS sempat kuat pada Oktober dan November, tetapi itu lebih merupakan pemulihan sementara pasca-kebijakan tarif, dan dampaknya kini telah berakhir. Penjualan mobil di AS pada dasarnya juga tidak terlalu kuat.
Neraca Perdagangan Jepang
Secara keseluruhan, neraca perdagangan Jepang pada 2025 masih mencatatkan defisit sebesar ¥2,65 triliun, terutama disebabkan oleh perdagangan dengan China. China tetap menjadi mitra dagang terbesar Jepang, disusul AS. Jepang membukukan defisit perdagangan sebesar 7,91 triliun yen dengan Beijing.
Keberlanjutan perdagangan Jepang dengan China menjadi perhatian utama sejak sengketa diplomatik muncul tahun lalu, menyusul pernyataan kontroversial Perdana Menteri Sanae Takaichi terkait Taiwan pada November.
Pada Januari, China mengumumkan pembatasan ekspor baru untuk barang-barang penggunaan ganda (dual-use) serta penyelidikan antidumping terhadap material penting industri semikonduktor. Peringatan perjalanan dari pemerintah juga menyebabkan penurunan jumlah wisatawan China ke Jepang.
Pada Desember, total ekspor Jepang tumbuh 5,1% secara tahunan, ditopang permintaan dari Eropa dan Asia termasuk China. Namun, capaian tersebut masih di bawah proyeksi median analis sebesar 6,1%, dengan ekspor ke AS anjlok 11,1%.
Pandangan Akhir
Minami menutup pernyataannya dengan menyatakan bahwa ia tidak berpikir China mampu merusak hubungannya dengan Jepang. Langkah tersebut justru akan memperburuk kondisi ketenagakerjaan domestik dan meningkatkan kritik terhadap pemerintah China.












