Yulia Rina berjalan sibuk di tengah ribuan pengunjung yang hadir dalam Singapore FinTech Festival (SFF) 2025, yang berlangsung di Singapore Expo, Tampines, Singapura. Sebagai pekerja bidang Partnership di ALTO Network, sebuah perusahaan penyelenggara infrastruktur sistem pembayaran asal Indonesia, Yulia datang ke festival fintech internasional ini dengan tujuan khusus. “Saya diutus oleh kantor untuk mencari mitra,” ujarnya saat ditemui di lokasi acara pada Kamis, 13 November 2025.
Pertemuan global antarpegiat industri fintech di SFF 2025 sudah memasuki hari kedua. Acara ini akan ditutup pada Jumat, 14 November 2025. Sejak dibuka pada Rabu kemarin, jumlah pengunjung terus meningkat. Koridor antarstan penuh sesak, sehingga pengunjung harus sangat waspada agar tidak terjebak dalam kerumunan.
SFF 2025 mengundang lebih dari 65 ribu partisipan atau pelaku bisnis dari berbagai negara di dunia. Dalam pertemuan ini juga turut serta sekitar 660 perbankan dan otoritas keuangan dari sekitar 135 negara. Selain pameran produk, para peserta dapat mengikuti sekitar 20 ribu pertemuan bisnis antarperusahaan.
Bagi Silvya Winny, Field Marketing Lead Xendit, SFF 2025 adalah acara ketiga yang perusahaannya ikuti. Xendit ingin memperluas bisnisnya, khususnya di Asia Tenggara. “Kami membantu banyak bisnis di Asia Tenggara,” kata Silvya.
Paul Lee, Chief Executive (Markets) Constellar, salah satu penyelenggara SFF, menyatakan bahwa pertemuan ini juga menjadi bagian dari perayaan ulang tahun ke-10 SFF. Pada SFF tahun lalu, tercatat ada 10 ribu pertemuan bisnis bagi 1.500 peserta.
Tahun ini, SFF menargetkan bisa membuka 20 ribu pertemuan untuk 3 ribu peserta. “Kami berkomitmen untuk mengembangkan program pertemuan ini secara signifikan di tahun 2025 melalui sejumlah langkah strategis utama, termasuk peluncuran yang lebih luas yang mencakup lebih banyak peserta,” ujar Paul.
SFF diselenggarakan oleh Otoritas Moneter Singapura (MAS), Global Finance & Technology Network (GFTN), Constellar, dan bekerja sama dengan Asosiasi Bank Singapura (ABS). Sejak pertama kali diadakan pada 2016, SFF telah menjadi platform utama bagi komunitas FinTech global untuk berinteraksi, terhubung, dan berkolaborasi dalam isu-isu yang berkaitan dengan hubungan antara layanan keuangan, kebijakan publik, dan teknologi.
Salah satu peserta dalam SFF 2025 adalah Visa, sebuah perusahaan pembayaran global digital. T.R. Ramachandran, Kepala Produk dan Solusi untuk Asia Pasifik Visa, mengatakan bahwa dalam SFF tahun ini perusahaannya memamerkan Visa Intelligent Commerce di kawasan Asia Pasifik. Platform ini merupakan bagian dari upaya Visa mengembangkan ekosistem belanja dan pembayaran yang berbasis pada AI.
“Dengan Visa Intelligent Commerce dan landasannya, Trusted Agent Protocol, Visa menghubungkan konsumen, agen AI, dan pedagang melalui solusi yang aman dan terukur. Hal ini memastikan setiap interaksi terverifikasi dan transparan, memberdayakan semua pihak yang terlibat dalam pembelian untuk merangkul masa depan ini dengan percaya diri.” ujarnya di Singapore Expo pada Selasa, 12 November 2025.
Ramachandran menjelaskan bahwa Visa Intelligent Commerce menggabungkan fitur-fitur seperti tokenisasi, autentikasi, instruksi pembayaran digital, dan sinyal transaksi. Platform ini dirancang agar setiap aktivitas beroperasi secara transparan dan aman.
Selama setahun terakhir, lalu lintas berbasis AI ke situs web ritel telah melonjak lebih dari 4.700 persen. Adobes Data Insight pada Agustus 2025 menemukan bahwa ada 85 persen pembeli menggunakan AI untuk berbelanja. “Perdagangan agen sedang mentransformasi struktur transaksi pembayaran online, membutuhkan ekosistem terpadu untuk membuka potensi penuhnya,” kata Ramachandran.












