Persiapan RSPTN Unila Menjelang Operasional
RSPTN Unila (Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri Universitas Lampung) sedang mempersiapkan sejumlah layanan unggulan yang akan dihadirkan menjelang beroperasinya rumah sakit tersebut pada Desember 2026. Rumah sakit ini ditargetkan menjadi pusat pendidikan medis dan akan menyediakan kapasitas 100 tempat tidur pada tahap awal operasionalnya.
Selain itu, RSPTN Unila juga akan melayani pasien peserta BPJS Kesehatan. Integrasi penuh dengan BPJS Kesehatan direncanakan terjadi pada tahun 2028 setelah melalui proses akreditasi.
Layanan yang Tersedia
Kepala Biro Perencanaan, Kerja Sama, dan Hubungan Masyarakat Unila, Budi Sutomo, mengatakan bahwa saat ini pihaknya sedang mematangkan kesiapan sumber daya manusia (SDM) serta sarana prasarana sebelum rumah sakit tersebut beroperasi.
Layanan unggulan RSPTN Unila akan dimulai bertahap sesuai dengan kesiapan SDM dan sarana prasarana. Estimasi operasional RSPTN Unila akan mulai berjalan pada bulan Desember 2026, dengan layanan unggulan yang diberikan secara bertahap.
Beberapa layanan yang akan tersedia di awal operasi antara lain:
- Instalasi gawat darurat (IGD) 24 jam
- Rawat jalan umum dan spesialis
- Rawat inap
- Layanan penunjang medik
Selain itu, RSPTN Unila juga akan menyediakan layanan seperti farmasi, laboratorium, radiologi, dan layanan penunjang nonmedik lainnya.
Teknologi dan Fasilitas
RSPTN Unila akan dilengkapi dengan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit yang terintegrasi. Selain itu, pengembangan fasilitas telemedicine juga sedang dalam perencanaan. Telemedicine merupakan layanan kesehatan jarak jauh yang menggunakan teknologi informasi dan komunikasi seperti telepon, video call, maupun aplikasi.
RSPTN Unila juga akan memiliki Center of Excellent yang mencakup beberapa layanan, antara lain:
- Tropical infection disease (penyakit infeksi tropis)
- Endocrine and metabolic
- Geriatric (lansia)
- Medical rehabilitation (rehabilitasi medik)
Kapasitas Tempat Tidur
Terkait kapasitas pasien, RSPTN Unila menyiapkan total 100 tempat tidur di tahap awal, termasuk 13 perawatan intensif. “Total kapasitas tempat tidur adalah 100, termasuk di antaranya 13 TT untuk rawat intensif yang akan dibuka untuk pelayanan secara bertahap,” tambah Budi.
Sistem pembagian kelas rawat inap RSPTN Unila telah mengikuti Peraturan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS), di mana ruang rawat inap maksimal berjumlah 4 tempat tidur sesuai aturan standar regulasi yang ditetapkan Kementerian Kesehatan.
Kesiapan Manajemen
Budi menyebut bahwa proses rekrutmen SDM sudah dimulai melalui rapat koordinasi lintas sektor. Hasil dari rapat tersebut dilakukan Penyusunan Panduan dan Timeline rekrutmen SDM Top manajemen operasional RSPTN Unila. Detail teknis proses sedang dalam tahap review dari pihak kepegawaian Universitas Lampung.
Meski dirancang sebagai RS Pendidikan, Budi menegaskan bahwa di awal pembukaan, RSPTN Unila akan berfokus pada layanan rumah sakit umum yang terakreditasi nasional. Hal ini berkaitan dengan pemenuhan syarat RS Pendidikan yang memerlukan angka kecukupan kasus dan kriteria SDM tertentu.
Program Studi dan Riset
FK Unila telah mengantongi izin pembukaan Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi, Ilmu Penyakit Dalam, Ilmu Bedah, dan Ilmu Kesehatan Anak. RSPTN Unila akan menjadi bagian penting dalam ekosistem kesehatan Lampung sebagai pusat pendidikan klinik.
Dengan adanya Integrated Research Center (IRC), diharapkan bisa menjadi pusat riset dan inovasi kesehatan. RSPTN Unila memiliki posisi strategis dalam menghasilkan penelitian-penelitian yang mendukung kebijakan kesehatan daerah dan berperan dalam integrasi dan penguatan sistem kesehatan daerah.
Integrasi BPJS Kesehatan
Mengenai integrasi BPJS Kesehatan bagi masyarakat umum, Budi memaparkan bahwa ada sejumlah tahapan yang harus dilalui setelah operasional dimulai. Setelah berjalan, operasional rumah sakit akan segera berfokus untuk dapat bekerja sama dengan layanan BPJS Kesehatan dengan melalui tahapan awal persyaratan yaitu pemenuhan akreditrasi RS untuk layanan umum terlebih dulu.
Estimasi pada Juni 2027 visitasi akreditasi RS akan berjalan dan mendapatkan sertifikat akreditasi pada Maret 2028 lalu direncanakan Oktober sudah memiliki sertifikat akreditasi. Kemudian bulan Maret 2028 melakukan kerja sama dengan BPJS kesehatan dan November 2028 terjadwal untuk simulasi menjadi Rumah Sakit Pendidikan Satelit.












