Peningkatan Kapasitas Bandara Ngurah Rai Bali
Kapasitas penumpang Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali sebelumnya hanya mampu menangani 24 juta penumpang per tahun. Namun, setelah dilakukan revitalisasi, kini kapasitas bandara tersebut meningkat menjadi mampu melayani hingga 32 juta penumpang per tahun. Saat ini, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Dirjen Hubud) tengah melakukan kajian lebih lanjut untuk meningkatkan kapasitas bandara tersebut lagi, dengan target akhir mencapai 40 juta penumpang per tahun.
Menurut Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman F. Laisa, dalam sambutannya pada acara Celebration of Airport Excellence di Nusa Dua, Jumat (23/1), berdasarkan studi yang dilakukan, jumlah penumpang di Bandara Bali diperkirakan akan mencapai 55 juta per tahun. Hal ini memicu pertanyaan tentang kebutuhan adanya bandara atau runway tambahan di Bali Selatan, karena kapasitas 32 juta penumpang sudah membutuhkan dukungan infrastruktur yang lebih besar.
Namun, masalah utama yang dihadapi adalah kemacetan lalu lintas di Bali Selatan. Untuk mengatasi hal ini, pihak terkait telah mempertimbangkan pembangunan MRT dan jalan tol. Sayangnya, ada keterbatasan aturan yang melarang pembangunan bangunan atau jalan yang lebih tinggi dari pohon kelapa.
“Ini juga menjadi tantangan bagi kita. Jika Bandara Ngurah Rai mencapai 32 juta penumpang, bayangkan bagaimana kemacetan yang terjadi saat masih 24 juta. Di Bali Selatan, desain awal hanya mampu menangani 24 juta penumpang. Kami selalu menawarkan alternatif agar penumpang bisa terbang ke tempat lain selain Bali dan Jakarta,” ujar Lukman.
Namun, permintaan masyarakat tetap mengarah ke Jakarta dan Bali. Oleh karena itu, dalam kurun waktu tiga hingga empat tahun ke depan, Bali diperkirakan akan mencapai angka 32 juta penumpang per tahun.
Prioritas Keselamatan Penerbangan
Dengan peningkatan jumlah penumpang, pihak Dirjen Hubud menekankan pentingnya menjaga keselamatan penerbangan. Menurut Lukman, kecelakaan pesawat, meskipun jarang terjadi, akan langsung mendapat perhatian masyarakat baik di dalam maupun luar negeri.
“Kita harus tetap menjaga safety di Bandara Ngurah Rai. Ini menjadi prioritas utama agar tidak terjadi kecelakaan yang fatal,” katanya.
Saat ini, sektor aviasi di Indonesia belum sepenuhnya pulih dari dampak pandemi Covid-19. Penumpang domestik baru mencapai 80 persen dibanding tahun 2019, sementara penumpang internasional sudah kembali ke 100 persen. Namun, jumlah penerbangan domestik hanya 67 persen, sedangkan internasional sudah mencapai 99 persen. Bahkan, jumlah penumpang internasional melebihi 105 persen dari tahun 2019.
Lukman berharap sektor aviasi nasional dapat kembali pulih seperti kondisi sebelum pandemi, dengan jumlah pesawat mencapai 566 pesawat. Saat ini, hanya 288 pesawat yang beroperasi, sehingga masih ada 176 pesawat yang belum aktif kembali.
Masalah Harga Tiket Pesawat Domestik
Kondisi ini menyebabkan harga tiket pesawat rute domestik meningkat, karena supply dan demand tidak seimbang. Untuk mengatasi hal ini, pihak Dirjen Hubud mendukung penuh maskapai untuk menambah penerbangan baru atau mengajukan tambahan penerbangan diluar penerbangan reguler. Hal ini diharapkan dapat membuat harga tiket lebih murah.
Operasi Modifikasi Cuaca dalam Evakuasi Pesawat ATR 42-500
Selama proses pencarian korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Bulusaraung, pihak terkait melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Cuaca di lokasi kejadian sangat ekstrem, sehingga OMC digunakan untuk menggeser pergerakan awan, sehingga proses evakuasi korban dapat dilakukan secara maksimal. Sampai saat ini, OMC telah dilakukan lebih dari sepuluh kali.
Keselamatan Penerbangan Tetap Dijaga
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman F. Laisa, mengingatkan bahwa keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas utama, terlebih di tengah kondisi cuaca yang memasuki puncak musim hujan. “Saya ingin ingatkan terkait dengan weather dan safety supaya bisa tetap dijaga,” ujarnya.












