JAKARTA — Dua perusahaan pelat merah, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) dan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA), kembali mengambil langkah restrukturisasi setelah sebelumnya melakukan penyelamatan yang dinilai belum mampu menyelesaikan masalah inti perusahaan. Langkah ini menjadi tanda bahwa transformasi awal yang dilakukan belum berhasil mencapai hasil yang diharapkan.
Restrukturisasi WIKA: Pilar Transformasi 2026
Manajemen WIKA telah menjadikan restrukturisasi lanjutan sebagai salah satu pilar utama dalam transformasi perusahaan hingga tahun 2026. Selain fokus pada asset recycling dan penguatan efisiensi, restrukturisasi ini akan menjadi kelanjutan dari upaya penyelamatan yang dimulai pada 2024.
Tahun lalu, WIKA bersama sejumlah lembaga keuangan telah menyelesaikan kesepakatan master restructuring agreement (MRA) dengan nilai outstanding sebesar Rp20,79 triliun. Meski demikian, kinerja keuangan perusahaan justru melemah, terutama karena penurunan pendapatan yang menyebabkan kesulitan dalam memenuhi kewajiban keuangan.
Herry Gunawan, pemerhati BUMN dan Direktur NEXT Indonesia Center, menilai bahwa rencana restrukturisasi kedua WIKA menunjukkan bahwa langkah penyelamatan sebelumnya belum berhasil menyentuh akar masalah. Ia menekankan bahwa selain ekuitas negatif, arus kas operasi WIKA juga defisit. Perusahaan ini membutuhkan suntikan modal serta restrukturisasi besar-besaran terhadap entitas usaha di bawahnya yang jumlahnya terlalu banyak dan menjadi beban tambahan.
Restrukturisasi GIAA: Penyertaan Modal Jumbo
Di sisi lain, penyehatan GIAA terus berlanjut setelah rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) menyetujui penyertaan modal sebesar Rp23,67 triliun dari PT Danantara Asset Management melalui mekanisme private placement. Restrukturisasi sebelumnya pada 2022 berhasil menurunkan utang perseroan dari US$10 miliar pada 2021 menjadi US$5 miliar, serta meningkatkan ekuitas dari negatif US$5,3 miliar menjadi minus US$653 juta.
Namun, manajemen Garuda menyatakan bahwa belum terealisasinya rights issue tahap kedua menjadi salah satu hambatan dalam proses transformasi. Herry menilai bahwa restrukturisasi pertama hanya memperpanjang tenor pembayaran kewajiban tanpa menyelesaikan permasalahan utama. Beban keuangan GIAA masih sangat berat, baik dari sisi pinjaman, sewa pesawat, maupun biaya perawatan dan pengembalian pesawat.
Kepercayaan Investor: Kunci Sukses Restrukturisasi
Untuk mengembalikan kepercayaan investor, Herry menekankan perlunya restrukturisasi menyeluruh yang mencakup dua aspek utama, yakni keuangan dan model bisnis. Restrukturisasi, katanya, harus mampu meyakinkan investor bahwa beban utama perusahaan dapat terselesaikan.
Restrukturisasi model bisnis juga penting dilakukan agar perusahaan lebih fokus pada inti usaha. WIKA, misalnya, memiliki hampir 30 entitas anak dan asosiasi dengan bisnis yang beragam, sedangkan Garuda memiliki sekitar 20 unit bisnis. Model bisnis yang tidak fokus pada core business perlu direstrukturisasi. Keduanya perlu turn-around dengan kembali ke bisnis inti.
Pandangan Ahli: Restrukturisasi Lanjutan Sebagai Indikasi Masalah
Senada dengan Herry, Associate Director BUMN Research Group FEB UI, Toto Pranoto, memandang bahwa restrukturisasi lanjutan mencerminkan bahwa persoalan fundamental di WIKA dan GIAA belum terselesaikan. Menurut Toto, tekanan keuangan yang bersumber dari lemahnya kinerja bisnis menjadi penyebab utama.
Dia pun melihat langkah Danantara untuk menambah modal jumbo di Garuda sebagai aksi korporasi positif yang menunjukkan komitmen pemegang saham dalam memperbaiki kinerja fundamental. “Langkah ini bisa menjadi sentimen positif di Bursa Efek Indonesia bahwa pemegang saham sudah ambil langkah proaktif untuk memperbaiki kinerja fundamental BUMN tersebut,” ucap Toto.
Persiapan dan Evaluasi Restrukturisasi
Direktur Keuangan WIKA, Sumadi, menuturkan bahwa perseroan masih mengkaji opsi restrukturisasi yang paling sesuai dengan kondisi saat ini. Salah satunya adalah menerapkan skema MRA dengan perbankan. Koordinasi dan konsultasi dengan Danantara juga terus berjalan untuk mendapatkan dukungan dalam menghadapi kondisi keuangan saat ini.
Sementara itu, Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan, menyatakan bahwa persetujuan pemegang saham terhadap penyertaan modal Danantara menjadi momentum penting dalam perjalanan pemulihan perseroan. “Dukungan dari DAM sebagai bagian dari inisiatif pemerintah mencerminkan kepercayaan terhadap arah strategis dan visi jangka panjang kami dalam mewujudkan maskapai nasional yang sehat, tangguh, dan berkelas dunia.”
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












