Perubahan Rute Grebeg Getuk Magelang Menghadirkan Makna Baru
Ribuan warga memadati Alun-Alun Kota Magelang, Minggu, 12 April 2026, untuk merayakan Hari Jadi ke-1120 Kota Magelang lewat tradisi tahunan Grebeg Getuk. Namun, ada satu hal yang paling mencuri perhatian tahun ini: perubahan rute kirab yang membawa makna lebih dalam daripada sekadar jalur perjalanan.
Di bawah terik matahari pagi, warga sudah tumplek blek di sepanjang jalur kirab. Masyarakat berdiri rapat di sisi jalan, menanti prosesi yang selalu jadi magnet perayaan hari jadi kota. Tahun ini, kirab Grebeg Getuk tampil dengan wajah baru. Jika pada tahun-tahun sebelumnya prasasti dan rombongan bergerak dari kantor PDAM di Jalan Veteran menuju Alun-alun menggunakan delman, kali ini prosesi diubah total. Rombongan berjalan kaki dari Pendopo Alun-alun menuju pusat kegiatan.
Walikota Magelang Damar Prasetyono, menegaskan bahwa perubahan rute ini bukan sekedar inovasi teknis, melainkan memiliki simbol yang kuat. “Maknanya karena Pendopo Alun-alun ini sudah menjadi milik masyarakat Kota Magelang, sehingga kita gunakan untuk hal tersebut,” ujarnya usai acara.
Pendopo Alun-alun yang berada di sisi utara Alun-alun, tepatnya di eks BPLK (Badan Pendidikan dan Latihan Keuangan) resmi digunakan penuh tahun ini. Bangunan tersebut merupakan hibah dari Kementerian Keuangan kepada Pemerintah Kota Magelang. Karena itu, rute baru kirab menjadi penanda bahwa ruang tersebut kini resmi menjadi bagian dari denyut budaya masyarakat.
Damar menyebut, nama Pendopo Alun-alun juga baru diresmikan pada hari yang sama. Nama itu dipilih sederhana namun kuat, karena lokasinya yang menyatu dengan kawasan Alun-alun, pusat aktivitas warga. “Ini kita manfaatkan 100 persen, full untuk masyarakat,” katanya.
Makna perubahan rute terasa semakin kuat saat prasasti Mantyasih yang menjadi simbol sejarah Kota Magelang dikirab menuju pendopo baru sebelum akhirnya dibawa kembali ke Alun-alun. Seolah ada pesan yang ingin ditegaskan: sejarah lama bertemu ruang baru, tradisi tetap hidup dengan wajah yang lebih dekat ke publik.
Prosesi Kirab dengan 17 Gunungan
Prosesi dimulai dari Fragmen Bumi Perdikan Mantyasih, lalu dilanjutkan kirab prasasti menuju Pendopo Alun-alun. Setelah upacara adat dan penyerahan prasasti, rombongan berjalan kaki menuju Alun-alun sambil menyapa warga di sepanjang jalan. Sebanyak 17 gunungan dari 17 kelurahan ikut dikirab dan menjadi rebutan warga setelah penilaian dewan juri.
Di tengah keramaian, antusiasme warga begitu terasa. Hani, salah satu pengunjung dari Kelurahan Tidar Utara, Kecamatan Magelang Selatan, mengaku suasana tahun ini terasa lebih seru. “Rame sekarang, lebih luar biasa. Lebih cepat juga dari yang kemarin-kemarin, agak simpel,” ujarnya sambil tertawa. Meski tak berhasil mendapatkan getuk, ia tetap pulang membawa hasil “rebutan”.
“Dapat onclang (daun bawang), bisa buat nasi goreng,” katanya.
Bagi generasi muda, perubahan rute ini justru membuat Grebeg Getuk terasa lebih fresh tanpa meninggalkan akar sejarahnya. Tradisi tetap dijaga, tetapi dikemas lebih dinamis dan relevan dengan ruang kota hari ini.
Harapan Masa Depan
Ke depan, Damar berharap inovasi semacam ini terus dilakukan, namun tidak keluar dari pakem sejarah Mantyasih dan identitas Kota Magelang. “Inovasi boleh, tapi sejarah tetap menjadi pakem utama,” tegasnya.
Di situlah inti perubahan rute tahun ini: bukan hanya soal jalan yang dilalui, tetapi tentang menghidupkan kembali sejarah dalam ruang baru yang kini benar-benar menjadi milik warga.
Perubahan rute kirab ini menjadi simbol kebanggaan masyarakat Magelang akan sejarah dan budaya mereka. Dengan perubahan ini, tradisi yang telah berlangsung ratusan tahun tetap hidup, tetapi dengan nuansa yang lebih modern dan dekat dengan kehidupan masyarakat saat ini.












