Upacara Adat Ceprotan, Tradisi Budaya yang Penuh Makna
Upacara Adat Ceprotan merupakan ritual tahunan yang digelar setiap bulan Longkang pada hari Senin Kliwon di Desa Sekar, Pacitan. Ritual ini tidak hanya menjadi bagian dari upacara bersih desa, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan harapan akan keselamatan serta kemakmuran bagi warga.
Tradisi ini memiliki akar sejarah yang dalam, terkait dengan legenda Dewi Sekartaji dan Ki Godeg. Dalam versi pertama, kisah ini mengisahkan pembukaan hutan tandus oleh Ki Godeg, yang kemudian bertemu dengan Dewi Sekartaji. Saat Dewi Sekartaji meminta air kelapa muda, Ki Godeg menggunakan kesaktiannya untuk mendapatkan cengkir dari tempat yang jauh. Setelah minum, sisa air kelapa tersebut ditumpahkan di tanah, yang kemudian menjadi sumber mata air bernama Sumber Sekar.
Dalam versi kedua, Dewi Sekartaji dan Ki Godeg dianggap sebagai pasangan suami istri yang mendirikan padepokan untuk mengembangkan ilmu. Setiap calon murid yang ingin berguru diminta membawa beberapa perlengkapan seperti cengkir, beras pari, beras ketan, mori, pitik putih, kembang setaman, dan menyan. Perlengkapan ini memiliki makna simbolis, seperti cengkir yang melambangkan pikiran yang lurus, beras pari berarti tidak mudah marah, dan lainnya.
Prosesi Ceprotan: Dari Arak-arakan Hingga Lempar Kelapa
Prosesi Ceprotan diawali dengan arak-arakan kelapa muda menuju lokasi upacara, biasanya di tanah lapang desa. Kelapa yang telah dikuliti dan direndam beberapa hari agar tempurungnya lunak diletakkan dalam keranjang bambu dan dibawa para pemuda. Sebelum ritual inti, tetua adat membacakan doa. Kemudian, acara dilanjutkan dengan sendratari yang mengisahkan pertemuan Ki Godeg dan Dewi Sekartaji.
Setelah itu, para pemuda dibagi menjadi dua kubu yang saling berhadapan dengan jarak beberapa meter. Di tengah arena diletakkan ayam panggang utuh (ingkung). Ketika aba-aba dimulai, kedua kubu saling melempar kelapa muda. Warga yang tubuhnya terkena lemparan hingga kelapa pecah dan airnya membasahi badan dipercaya akan memperoleh rezeki melimpah. Usai seluruh kelapa habis dilempar, acara ditutup dengan doa dan pembagian sesaji untuk dimakan bersama sebagai simbol kebersamaan.
Makna Simbolik di Balik Ceprotan
Kelapa muda atau cengkir menjadi elemen utama dalam ritual ini. Dalam filosofi Jawa, cengkir dimaknai sebagai “kencenge pikir” atau keteguhan berpikir. Pesan tersebut merujuk pada ajaran agar pemuda mengandalkan akal dan usaha dalam mencari sandang pangan. Sementara ayam panggang (ingkung) di tengah arena melambangkan rezeki yang harus diupayakan.
Tradisi saling melempar kelapa bukan sekadar permainan, melainkan simbol kerja sama dan semangat gotong royong dalam menggapai kesejahteraan. Nilai utama dari Ceprotan bukan hanya ritual adat, melainkan juga mempererat tali silaturahmi, rasa kekeluargaan, dan kebersamaan antarwarga.
Menarik Wisatawan dan Mendorong Ekonomi
Seiring perkembangan zaman, Ceprotan tak lagi sekadar tradisi lokal, tetapi juga menjadi agenda budaya yang menarik perhatian wisatawan, bahkan mancanegara. Menurut keterangan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pacitan, tradisi Ceprotan ini pernah dihadiri oleh beberapa wisatawan mancanegara, seperti dari Jerman, Cekoslovakia, Jepang, Belanda, Taiwan hingga Inggris.
Tak hanya berdampak pada pelestarian budaya, Ceprotan juga menggerakkan roda ekonomi warga. Momentum ini dimanfaatkan masyarakat untuk berjualan aneka makanan khas seperti pecel, lontong, legender, hingga kolong. Bahkan, salah satu warga mengaku mampu meraup keuntungan hingga tiga sampai empat kali lipat saat gelaran Ceprotan berlangsung.
Warisan Budaya yang Terus Dijaga
Upacara Adat Ceprotan menjadi bukti tradisi dan mitos masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat Jawa. Meski berkembang dengan sentuhan pariwisata, esensi ritual bersih desa tetap dijaga. Di tengah arus modernisasi, warga Desa Sekar terus merawat Ceprotan sebagai warisan leluhur sekaligus identitas budaya yang membanggakan Kabupaten Pacitan.













