Budaya  

Pertama Kali Masuk Artikel Utama Fiksiana, Rayakan dengan Cerita



Pada hari Kamis, 8 Januari 2026 yang lalu, saya kembali mengatur ulang tumpukan buku-buku di rak lemari. Ada beberapa kertasnya menguning, ada juga yang masih bersih dan rapi. Buku-buku yang belum sempat saya baca atau yang belum selesai, saya susun secara terpisah sesuai ukuran masing-masing dan menyimpannya di rak lain.

Tiba-tiba saya tersenyum melihat satu buku antologi cerpen yang pernah saya ikuti bersama peserta Kelas Menulis Cerpen Batch-4 di Komunitas Menulis Onlone (KMO) tahun 2023. Yang membuat saya tertarik mengikuti kelas ini adalah karena saya tidak terlalu mahir dalam menulis cerpen seperti penulis fiksi lainnya. Saya ingin belajar bagaimana teori menulis cerpen itu sendiri. Lebih menarik lagi, pematerinya adalah Kak Faisal Oddang yang pernah meraih penghargaan sebagai penulis cerpen terbaik Kompas Tahun 2014 dan 2018.

Saat mengikuti kelas tersebut, salah satu tugasnya adalah membuat satu cerpen dengan tema dan genre bebas. Tugas ini membuat saya hampir tidak mengerjakannya karena mental blok yang sering muncul saat menulis. Menurut saya, setelah cerpen ini selesai, inilah cerpen pertama yang saya tulis dengan pikiran yang tidak ringan, memeras diksi dan kalimat, hingga rasanya pusing. Saya juga sempat berkonsultasi dengan Mbak Lilik (kompasianer asal Malang) sebelum mengajukan naskah ke koordinator KMO.

Sedikit panik, saya berpindah ke laci lemari lain. Biasanya, saya menyimpan buku-buku yang masih berplastik di tempat tersendiri agar jika ada yang berminat membeli, stok buku itu ada di sana. Minimal saya menyimpan satu buku yang sama setiap kali menerbitkan buku antologi, sebagai cadangan jika buku rusak atau hilang. Alhamdulillah, ternyata masih ada.

Tetiba lagi, terbersit dalam benak saya bahwa jika buku rusak, hilang, atau sudah menguning kertasnya, karya saya tidak akan bisa dibaca. Maka dari itu, saya ingin menuliskannya kembali di akun agar jejak karya tersimpan dalam bentuk digital.

Saya juga mencari file kumpulan cerpen tersebut di folder dokumen Word. Ternyata masih ada dalam bentuk layout yang akan diajukan ke penerbit.

Sebelum melanjutkan niat itu, saya bertanya dan meminta pendapat dari Admin:

  1. Jika kita pernah menulis cerpen dan sudah pernah terbit/cetak di buku antologi dengan edisi terbatas, lalu ditulis dan diunggah di akun, apakah etis? Boleh/tidak?
  2. Jika boleh, apakah hal tersebut masuk kategori self-plagiarisme?

Meskipun nantinya pada bagian bawah diberi keterangan bahwa cerpen tersebut merupakan karya sendiri, pernah dicetak pada buku antologi judul X oleh Penerbit Y pada tahun Z, gitu.

Mohon saran dan masukkannya.

Hanya berselang 1 menit, Admin menjawab singkat, “Selama milik sendiri, tidak masalah, Mbak. Karena itu masih hak milik penulis.”

Lega-lah hati saya dan optimis untuk mengunggahnya esok hari.


Pada pagi hari Jumat, 9 Januari 2025 kemarin, saya mengunggah cerpen tersebut dengan judul Apa Rasanya Mati Dilumat Anai-anai?

Niat saya mengunggah cerpen ini adalah agar karya tersebut bisa dibaca lebih luas oleh pembaca lainnya, sehubungan buku antologi hanya dicetak dengan jumlah terbatas sesuai pra-pemesanan saat itu, termasuk dari pesanan penulis yang wajib membeli karya.

Pada kesempatan tersebut, saya belajar di kelas ini bersama Mbak Yuliyanti (Kompasianer asal Klaten) dan Mbak Sri Rohmatiah Djqlil (Kompasianer asal Madiun). Kami bertiga sudah lama saling mengenal melalui dunia maya sebelum bergabung di.

Tautan cerpen saya bagikan ke beberapa grup dan status WhatsApp sebagaimana biasa, agar teman-teman lain bisa langsung mampir dengan klik tautan tersebut.

Ide cerpen berasal dari kegelisahan saya sendiri yang tak pandai memelihara buku-buku bacaan dengan baik. Ada yang tersimpan di rak terbuka, ada yang disimpan dalam lemari tertutup, atau di laci-laci, bahkan juga di kotak kontainer.

Sebagian lagi berjajar rapi di meja baca, sebagai tanda bahwa buku tersebut saya niatkan tuntas baca di pekan yang bersangkutan.

Kalau lagi malas bersih-bersih, buku-buku jadi berdebu, menguning atau terselip kotoran lainnya. Padahal saya menabung beberapa bulan untuk bisa membeli dan memiliki buku-buku kesukaan. Buku jadi kotor atau rusak, hati sedih. Jadilah ide itu saya tuangkan menjadi cerpen sebagai pengingat diri saya pribadi.


Cerpen ini saya unggah di akun pada pagi hari, nah… sore hari ketika buka akun untuk cek kolom komentar, kok gambar ilustrasi cerpen berubah?

Gede rumangsa-lah saya alias kepedean bakal jadi Artikel Utama! Inikah tanda-tandanya??

Tunggu punya tunggu, sampai malam jelang tidur tak jua datang sematan AU-nya. Wakakaka.

Ya sudahlah, saya tidur jelang pukul sepuluh malam.

Dan, subuh pagi ini, saat membuka WA teman dari KPB yang mengucapkan selamat AU, selisih 15 menit dari jam tidur saya semalam, juga ucapan beruntun dari anggota grup apresiasi ini.

Jujurly, saya girang tak kepalang! ‘Pecah telur’, dah! Rekor baru untuk saya, untuk pertama kalinya mendapat apresiasi Artikel Utama di Kanal Fiksiana akun.

Selama ini, hanya sematan Pilihan saja pada rulisan puisi, romansa dan cerpen lainnya. Pun pernah tak berlabel di masa-masa awal menulis di kanal ini.

Jazakallaah khairan katsiron, Alhamdulillah ya Allah atas nikmat dan karuniaMu.

Terima kasih, Admin atas apresiasi karya.

Terima kasih kepada seluruh kawan Kompasianer, wa bil khusus sahabat KPB dan Pulpen atas doa, dukungan dan kesediaan berbagi ilmu dan wawasan menulis, baik tentang fiksiana maupun kanal lainnya.

Sukses selalu buat kita semua.

Saya pribadi harus meruntuhkan mental block dalam membuat cerpen. Salut buat para penulis yang memiliki imajinasi tinggi saat membuat karya di jalur fiksi. Nderek ngangsu kawruh, nggih. Mohon izin ikutan belajar dari karya-karya hebat para penulis di.

Salam sehat dan selalu ingat bahagia!


Artikel ke-4 2026

Tulisanke-634

ArtikelDiary

CerpenSiskaArtati

ApaRasanyaMatiDilumatAnaiAnai

KMOIndonesia

YangTerpilih

AntologiCerpen

ArtikelUtamaPertamaKanalFiksi

NulisdiKompasiana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *