Budaya  

Ziarah ke Makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, Mengenang Perjuangan Menyebarluaskan Islam

Tradisi Ziarah di Makam Sunan Kalijaga Jelang Ramadan

Di tengah kota Demak, tepatnya di Kadilangu, makam Sunan Kalijaga atau dikenal juga dengan nama Raden Said menjadi tujuan utama bagi para peziarah. Kehadiran mereka meningkat tajam menjelang bulan puasa Ramadan. Mereka datang tidak hanya untuk berdoa, tetapi juga untuk menata batin sebelum memasuki bulan penuh ibadah tersebut.

Banyak dari para peziarah berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, meskipun mayoritas masih berasal dari Pulau Jawa. Salah satu peziarah yang rutin datang adalah Akbar, warga Semarang. Ia bersama istrinya selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke makam Sunan Kalijaga setiap tahun sebelum Ramadan tiba. Bagi Akbar, tradisi ini sudah menjadi kebiasaan yang ia lakukan secara rutin.

“Setiap mau Ramadan, saya dan istri selalu pergi ke sini. Ini sudah jadi kebiasaan,” ujarnya saat ditemui di kompleks makam.

Bagi Akbar, ziarah bukan sekadar ritual. Ia melihatnya sebagai cara untuk mempersiapkan diri secara batin sebelum menjalani puasa. Setelah berziarah, ia merasa lebih tenang dan siap menjalani ibadah puasa.

“Rasanya beda. Habis dari sini itu hati lebih adem, lebih siap buat puasa. Sekalian mendoakan dan mengingat perjuangan Sunan Kalijaga,” katanya.

Tradisi ini juga menjadi momen untuk mengingat nilai-nilai kesederhanaan dan kesabaran yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga. Menurut Akbar, nilai-nilai tersebut masih relevan hingga sekarang.

“Puasa kan bukan cuma nahan lapar. Di sini kita diingatkan buat menahan emosi dan memperbaiki sikap,” tutupnya.

Ziarah sebagai Budaya Jawa

Kenaikan jumlah peziarah di makam Sunan Kalijaga dikonfirmasi oleh Juru Kunci Makam Sunan Kalijaga, Edi Mursalien. Menurutnya, ziarah bukan hanya rutinitas tahunan, tetapi juga menjadi waktu untuk mengingat, mendoakan, dan merenungi hidup sebelum menjalani puasa.

“Kalau dibilang klise, memang klise. Tapi inilah adat orang Jawa. Setiap menjelang Ramadan ada peningkatan yang cukup signifikan dari peziarah, orang-orang datang untuk tilik kubur, kirim doa, dan memuliakan leluhur,” ujarnya.

Edi menjelaskan bahwa tradisi ziarah menjelang Ramadan sudah berlangsung turun-temurun. Niat para peziarah pun sederhana, tanpa ritual yang rumit.

“Datangnya ya niat baik. Mendoakan leluhur, mendoakan para wali, sekaligus membersihkan batin sebelum puasa,” katanya.

Ziarah tidak dipahami sebagai ritual agama yang kaku. Justru, ziarah menjadi bagian dari budaya masyarakat Jawa yang lentur dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pendekatan Budaya dalam Berdakwah

Sunan Kalijaga dikenal sebagai tokoh penyebar Islam yang menggunakan pendekatan budaya. Ia tidak menghapus tradisi Jawa yang sudah ada, tetapi memberi makna baru di dalamnya.

“Beliau tidak menghilangkan budaya Jawa. Wayang, tembang, pakaian, semua tetap ada, tapi diisi nilai-nilai Islam,” jelas Edi.

Wayang, tembang, simbol, hingga kebiasaan sosial dijadikan sarana dakwah. Sunan Kalijaga bahkan kerap menggelar pertunjukan wayang kulit secara gratis agar masyarakat mau datang dan berkumpul.

“Lewat wayang itulah dakwah disampaikan. Tidak memaksa, tidak menakut-nakuti. Orang datang senang, lalu pelan-pelan paham,” ujarnya.

Selain wayang, Sunan Kalijaga juga menggunakan seni lain dalam berdakwah. Ia memanfaatkan busana seperti batik dan takwa, tembang-tembang bernuansa dakwah, seni ukir bernilai Islami, serta perannya sebagai dalang.

Melalui seni, ajaran Islam menjadi mudah diterima oleh masyarakat yang saat itu masih kuat dengan tradisi Hindu-Buddha.

Jejak Dakwah yang Masih Terasa

Dalam perjalanannya, Sunan Kalijaga dikenal sebagai mubalig yang gemar mengembara dan dekat dengan rakyat kecil.

“Beliau berbaur dengan masyarakat, tidak menjaga jarak. Cara berdakwahnya halus, penuh pertimbangan,” kata Edi.

Ia juga dikenal cermat dalam menyusun strategi dakwah, menyesuaikan cara penyampaian dengan kondisi masyarakat agar tidak menimbulkan konflik.

Jejak dakwah itu masih terasa kuat di Kadilangu hingga kini. Kompleks makam tidak hanya menjadi tempat ziarah, tetapi juga ruang hidup tradisi.

Di sekitarnya terdapat masjid, pusaka, dan kebiasaan adat yang masih dijalankan sampai sekarang.

Pusaka yang Masih Dirawat

Edi menuturkan, Sunan Kalijaga kembali menetap di Kadilangu pada usia sekitar 70 tahun. Kepulangannya berkaitan dengan perannya dalam membantu berdirinya Kesultanan Bintoro Demak bersama Sultan Fatah.

“Beliau berjasa besar dalam berdirinya Kesultanan Demak. Karena itu, beliau diberi tanah perdikan yang dulu jumlahnya sampai 32 desa,” tuturnya.

Namun, seiring perubahan zaman hingga masa penjajahan, wilayah tersebut menyusut dan kini hanya tersisa Desa Kadilangu yang diambil dari kata ‘radi langu’ (sedikit langu atau berbau tidak sedap). Meski wilayahnya menyempit, pengaruh Sunan Kalijaga tidak ikut hilang.

Ajaran hidupnya masih dikenang dan pusaka-pusaka peninggalannya tetap dirawat hingga sekarang.

Dua pusaka yang masih rutin dijamas adalah Kiai Carubuk dan Kotang Antakusuma. Jamasan dipahami sebagai perawatan tradisi, bukan ritual mistik.

“Jamasan dilakukan dengan doa dan tata cara yang sudah turun-temurun,” kata Edi.

Kiai Carubuk melambangkan sikap hidup membumi mampu menerima segala keadaan dengan sabar dan lapang dada. Sementara Kotang Antakusuma dimaknai sebagai simbol perlindungan nilai dan martabat manusia.

“Dua pusaka itu masih kami simpan di area makam. Jamasannya dilakukan setiap bulan Besaran. Khusus Kotang Anta Kusuma, menjamasnya dengan mata terpejam. Itu dawuh Eyang Sunan Kalijaga,” ujarnya.

Di kompleks makam Kadilangu, Sunan Kalijaga tidak dimakamkan sendirian. Di sekitarnya terdapat makam keluarga, santri, serta para pengurus masjid dari masa ke masa.

“Hingga sekarang, takmir, marbot, dan sentono masjid masih punya hak dimakamkan di area tertentu. Itu sudah tradisi,” pungkas Edi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *