Bahasa Kasar yang Semakin Umum Digunakan Anak-anak

Sudah tidak lagi jarang kita temui anak-anak dari sekolah dasar yang lancar menggunakan bahasa kasar dalam percakapan sehari-hari. Istilah yang dulu hanya digunakan oleh orang dewasa kini terdengar dari mulut anak-anak, baik saat mereka bermain, di jalanan, maupun di ruang publik. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan bahasa kasar semakin menjadi kebiasaan yang dinormalisasi sejak usia dini.
Bahasa Kasar yang Dinormalisasi Sejak Dini
Anak-anak adalah peniru aktif. Mereka cenderung meniru apa yang mereka lihat dan dengar dari lingkungan sekitarnya. Penggunaan bahasa kasar dan kata-kata tak pantas yang sering digunakan orang dewasa, serta munculnya istilah tersebut secara terus-menerus di media sosial, membuat anak-anak menganggap hal itu sebagai hal yang biasa dalam komunikasi.
Dalam konteks ini, kebiasaan anak dalam menggunakan bahasa kasar tidak dapat dipisahkan dari pengaruh lingkungan sosial yang membentuknya. Bahasa kasar kian dinormalisasi melalui percakapan sehari-hari, tontonan digital, dan interaksi dengan teman sebaya.
Pengaruh Media Digital terhadap Pola Bahasa Anak

Perkembangan teknologi telah mempercepat proses penyebaran dan penerimaan penggunaan bahasa kasar. Anak-anak kini terpapar konten digital sejak usia dini, baik melalui game online, video pendek, atau konten-konten yang ada di media sosial.
Pada konten hiburan yang viral, sering kali para content creator menggunakan kata-kata kasar sebagai bagian dari unsur candaan atau ungkapan marah. Tanpa adanya pendampingan yang tepat, anak-anak akan langsung memproses kata-kata tersebut dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari tanpa filter.
Berdasarkan berbagai studi global, mayoritas anak tidak lagi memenuhi pedoman penggunaan layar (screen time) yang direkomendasikan untuk anak. Di Indonesia sendiri, rata-rata screen time anak bisa mencapai lebih dari 7,5 jam per hari, jauh di atas batas yang dianggap sehat.
Keteladanan Orang Dewasa yang Kian Memburuk

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang tua yang lebih memilih memberikan gawai kepada anak agar tidak rewel. Namun, praktik ini sering kali dilakukan tanpa pengawasan yang benar terhadap konten yang ditonton anak. Masalah ini semakin diperparah oleh minimnya koreksi dari orang dewasa.
Kebiasaan orang dewasa yang menormalisasi penggunaan kata-kata kasar memperkuat kondisi ini. Bahasa—yang seharusnya dibatasi—sering kali digunakan secara terbuka, baik dalam percakapan harian maupun di media sosial. Tanpa disadari, hal ini juga menyebabkan normalisasi lingkungan linguistik dengan penggunaan bahasa kasar.
Tanggung Jawab Bersama
Fenomena ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan menyalahkan anak. Anak memang sebagai peniru aktif, sementara lingkungan juga berperan dalam membentuk kebiasaan tersebut. Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama untuk memperbaiki lingkungan sosial anak. Berikut beberapa upaya yang dapat dilakukan:
- Keteladanan Bahasa di Lingkungan Keluarga
Keluarga adalah tempat pertama anak belajar. Keteladanan orang tua dalam pemilihan kata yang digunakan saat percakapan sehari-hari akan menjadi dasar pembentukan kebiasaan berbahasa anak.
-
Pendampingan dalam Penggunaan Media Digital
Orang dewasa perlu mendampingi anak sebagai mediator dalam membantu anak mengenali hal-hal yang pantas ditiru atau sebaliknya. Pendampingan ini bukan hanya dimaknai sebagai pembatasan durasi screen time, tetapi juga sebagai cara untuk membimbing anak dalam memilih konten yang sesuai. -
Peran Sekolah dan Lingkungan Sosial
Pembiasaan bahasa santun tidak hanya relevan dengan pendidikan moral, tetapi juga mampu mendukung anak agar memperoleh praktik komunikasi yang sehat. -
Kesadaran tentang Tanggung Jawab Sosial
Bahasa anak lahir dari percakapan di rumah hingga di ruang publik. Oleh karena itu, pentingnya kesadaran publik agar tidak lagi menormalisasi penggunaan kata-kata kasar, terutama di hadapan anak-anak.
Semua upaya di atas bertujuan untuk menciptakan lingkungan komunikasi yang lebih baik bagi perkembangan anak. Ketika kata-kata kasar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak, persoalan ini bukan hanya terletak pada anak, melainkan juga pada lingkungan yang membentuk cara mereka berkomunikasi.
Oleh karena itu, upaya perbaikan bahasa anak sangat menuntut tanggung jawab orang dewasa untuk menciptakan ruang komunikasi yang baik, baik di rumah, sekolah, maupun dalam konten digital.












