Penyesalan Iwet Ramadhan atas Billboard Film “Aku Harus Mati” yang Menimbulkan Ketidaknyamanan
Iwet Ramadhan, produser film Aku Harus Mati, mengungkapkan rasa penyesalannya terhadap billboard promosi film yang dianggap menimbulkan ketidaknyamanan di kalangan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa pihaknya segera memutuskan untuk mempercepat penurunan billboard tersebut satu hari lebih cepat dari jadwal yang telah ditetapkan.
Selain itu, sebagai bagian dari evaluasi terhadap keluhan publik, Iwet menyatakan bahwa pihaknya akan menyesuaikan strategi promosi film tersebut. Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah dengan menambahkan tanda peringatan atau trigger warning pada materi promosi film. Hal ini dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap audiens dan kepedulian terhadap reaksi masyarakat.
Dalam wawancara via video call bersama IDN Times, Iwet Ramadhan menjelaskan bahwa keputusan untuk menurunkan billboard lebih awal diambil setelah melihat respons publik. Ia menyebutkan bahwa biasanya billboard tersebut harus berada di tempat hingga tanggal 5 April. Namun, karena adanya reaksi negatif, pihaknya memutuskan untuk menurunkannya lebih dini.
“Kami membuat inisiatif untuk menurunkan materi billboard sejak tanggal 4 April. Seharusnya, kalau sesuai dengan fase promosi ini, harusnya berakhir tanggal 5. Jadi kita percepat satu hari,” ujar Iwet.
Selain itu, ia juga menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan penyesuaian lain pada materi promosi dengan menambahkan peringatan atau trigger warning. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari evaluasi yang sedang berjalan.
Alasan di Balik Pemilihan Judul “Aku Harus Mati”
Dalam wawancara yang berlangsung selama sekitar 12 menit, Iwet menjelaskan bahwa pihaknya tidak pernah bermaksud untuk membuat orang merasa tidak nyaman. Ia memberikan penjelasan tentang alasan di balik pemilihan frasa “Aku Harus Mati” sebagai judul film yang dibintangi oleh Hana Saraswati.
Menurut Iwet, frasa tersebut berasal dari satu adegan dalam film yang ingin menyampaikan pesan agar masyarakat tidak sampai mengorbankan cinta demi harta atau hanya mencari pengakuan dan validasi. Pesan ini disampaikan melalui karakter Mala dalam film.
“Kata Aku Harus Mati ini sebenarnya ada di satu scene, di mana pesannya itu kami sampaikan. Pesannya adalah kami ingin masyarakat jangan sampai hanya karena pengakuan atau validasi, lalu kemudian sampai dia harus jual cinta demi harta seperti tokoh Mala. Itu yang sebenarnya ingin kami sampaikan dan ini memang ditampilkan lewat si judul Aku Harus Mati,” jelas Iwet.
Iwet, yang juga dikenal sebagai presenter, menegaskan bahwa judul film ini telah diajukan ke Lembaga Sensor Film (LSF) dan melewati proses evaluasi dengan lancar. Ia menyampaikan apresiasi yang dalam kepada LSF atas izin yang diberikan.

Apakah Judul “Aku Harus Mati” Akan Diganti?
Sebelumnya, IDN Times sempat menanyakan kepada Iwet apakah pihaknya akan tetap mempertahankan frasa “Aku Harus Mati” sebagai judul film meski menuai respons negatif dari masyarakat. Iwet menjelaskan bahwa sampai saat ini, judul tersebut kemungkinan besar akan dipertahankan, karena dianggap terlambat untuk mengubahnya.
“Sampai saat ini mungkin iya (dipertahankan). Karena sepertinya sudah terlambat kalau kita mengubah judul baru,” pungkasnya.
Film Aku Harus Mati telah tayang perdana di bioskop sejak 2 April 2026. Disutradarai oleh Hestu Saputra, film ini mengangkat kisah teror mistis yang menghantui kehidupan Mala setelah terjebak utang dan terpaksa kembali ke panti asuhan masa kecilnya.













