Budaya  

Cerpen: Gadis dan Merah Putih

Kehidupan di Pinggir Jalan

Di sebuah perhentian lampu merah, mata saya menangkap adegan yang amat menyayat. Seorang gadis bermasker merah tampak menatap bendera merah-putih yang tertambat di puncak sebuah tiang. Ia duduk bersila di trotoar dengan busana lusuh. Wajahnya terlihat kisut, tetapi tatapannya tegas dan penuh makna. Para pejalan kaki memandang aneh ke arahnya. Gadis itu tak terusik sedikit pun. Matanya tetap terpaku pada titik yang sama, sebuah bendera yang tengah berkibar di puncak tiang putih.

Tiang itu berdiri kokoh di depan sebuah gedung yang terletak di seberang jalan. Sejurus kemudian, derai air mata tumpah dari kelopaknya. Bersamaan dengan itu, lampu lalu lintas telah berganti hijau. Saya segera menghentikan gerakan sopir grab sembari menyampaikan bahwa saya turun di situ. Saya memberi uang lebih agar ia tak berkata banyak. Dengking klakson milik kendaraan-kendaraan di belakang kami, memberi isyarat agar mobil yang saya tumpangi segera melaju.

Saya bergegas keluar dan langsung menghampiri gadis itu. “Permisi, boleh saya duduk di samping nona?” Kata saya ketika berada persis di sampingnya. Ia tidak beringsut, tatapannya tetap lurus, tetapi kelopak matanya kembali banjir. Saya disergap bingung tak karuan. Apa yang salah sebenarnya? Bukankah saya tidak sedikit pun menyentuhnya?

Saya pandangi bendera yang hingga kini membuatnya terpaku. Bendera itu berkibar terhempas angin. Tidak ada yang ganjil dari bendera itu. Beberapa menit berselang, sebuah angkutan umum berhenti persis di depan kami sambil menunggu lampu kembali hijau. Bus itu menghalangi pandangannya ke arah bendera. Saat itulah ia menoleh ke arah saya. Ia memandangi saya tanpa ekspresi. Tak ada senyum, bingung, atau pun kesal yang tergambar di wajahnya. Namun saya tetap memperlihatkan senyum terbaik.

Ketika lampu berganti hijau, ia kembali menatapi bendera tadi. Merasa tidak digubris, saya memutuskan untuk pergi. Sebelum melangkah, saya berujar, “Nona, jika warna kesukaan nona ialah merah-putih, maka saya berikan masker putih saya untuk menemani masker merah nona.” Saya melepaskan masker yang saya kenakan dan meletakkan masker itu di sampingnya lalu bergegas. Rasa penasaran yang demikian besar, membuat langkah saya terhenti.

Bagaimana pun juga, rasa penasaran ini mesti terjawab. Itulah tugas saya sebagai seorang wartawan. Apalagi adegan aneh tadi erat kaitannya dengan bendera merah-putih. Hal itulah yang mengurungkan niat saya untuk meliput jalannya demonstrasi penolakan program Makan Bergizi Gratis yang sedang aktual belakangan ini.

Pastinya rekan-rekan saya tengah kewalahan mencari narasumber untuk dimintai keterangan. Aksi bakar ban tentu tak bisa dielakkan. Itu sudah tradisi. Makanya unjuk rasa selalu identik dengan kepulan asap gelap. Seolah-olah menandakan malapetaka besar akan menimpa negeri ini. Sebuah percikan pikiran muncul di benak saya.

Saya melangkah ke sebuah toko yang berjarak sepelemparan batu dari posisi saya. Syukurlah di toko itu tersedia bendera merah-putih berukuran kecil. Penjaga toko tampak heran melihat saya. Mungkin ia berpikir bahwa Agustus telah lewat. “Apa Anda mau yang ada tangkainya?” “Oo iya!! Ambil yang ada tangkainya saja,” jawab saya cepat karena seperti itulah yang saya inginkan.

Setelah membayar, saya langsung menuju gadis bermasker merah tadi. “Nona, ini untukmu,” kata saya ketika tiba di sampingnya. Ia menatap saya. Berbeda dengan yang tadi, kali ini secuil senyum tersungging di bibirnya. Senyumnya manis. Teramat manis malah. Gadis ini akan tampak sangat cantik jika ia mengenakan pakaian bersih dengan rambut disisir rapi.

Ia meraih tangkai bendera itu dengan lembut dan menciumnya berulang-ulang. Dalam senyumnya, ia kembali tersedu. Saya ikut terbawa suasana. Lebih-lebih ketika melihat masker saya tadi sudah ia satukan dengan maskernya. Kedua masker itu kini berada di paha kirinya. Kolaborasi keduanya mengingatkan saya akan dua warna yang selama ini kita agung-agungkan, tetapi jarang kita pahami. Merah dan putih.

Dua warna yang sering kita kibarkan tinggi-tinggi, tetapi entah bagaimana selalu gagal kita jaga di tanah tempat ia seharusnya hidup. Saya memandangi dua masker itu. Yang merah dan yang putih. Sederhana. Murahan. Kain tipis yang mungkin dibeli di pinggir jalan. Namun di pangkuan gadis itu, keduanya tampak seperti simbol yang jauh lebih besar dari sekadar kain.

Di seberang jalan, bendera besar itu masih berkibar. Angin kota meniupnya dengan gagah. Lalu lintas meraung-raung. Klakson bertabrakan. Orang-orang berlari mengejar jam kantor, mengejar rapat, mengejar proyek, mengejar tender, mengejar jabatan. Semuanya bergerak cepat, seperti ada sesuatu yang dikejar oleh negeri ini, tetapi tak seorang pun benar-benar tahu apa yang sedang mereka kejar.

Sementara di trotoar ini, seorang gadis lusuh mencium bendera kecil dengan khidmat seperti seseorang yang sedang berdoa. Saya tiba-tiba merasa kecil. Sangat kecil. Pikiran saya melayang pada gedung besar di depan kami. Gedung dengan tiang putih tinggi itu. Gedung tempat orang-orang berjas duduk di balik meja panjang, berbicara tentang program besar, angka-angka besar dan janji-janji besar. Program Makan Bergizi Gratis. Nama yang terdengar indah. Sangat indah.

Namun di trotoar yang sama, hanya beberapa meter dari gedung itu, seorang gadis duduk dengan pakaian lusuh, dengan wajah kurus yang seperti telah lama akrab dengan rasa lapar. Ironi ini terasa terlalu dekat untuk diabaikan. Di ruang-ruang kebijakan, program ini dipuji sebagai terobosan besar. Sebuah proyek nasional yang katanya akan menjawab masalah gizi anak bangsa. Negara hadir melalui sepiring makanan. Begitulah narasinya.

Namun semakin lama saya memikirkan program itu, semakin banyak pertanyaan yang muncul. Sebab program sebesar ini membutuhkan dana yang tidak kecil. Triliunan rupiah harus mengalir untuk memastikan jutaan porsi makanan sampai ke sekolah-sekolah. Namun pada saat yang sama, pemerintah juga berbicara tentang efisiensi anggaran di banyak sektor.

Saya tidak sedang meragukan niat baik di balik program ini. Memberi makan anak-anak adalah gagasan yang mulia. Namun sebuah gagasan yang mulia tidak otomatis menjadi kebijakan yang efektif. Dalam sistem birokrasi yang besar, proyek besar sering kali berubah menjadi ladang baru bagi permainan anggaran. Pengadaan barang, distribusi logistik, hingga pengelolaan dapur bisa saja menjadi ruang yang rawan disusupi praktik korupsi jika tidak diawasi dengan sangat ketat.

Pertanyaan lain yang tak kalah penting juga muncul: bagaimana nasib program ini di masa depan? Program yang sangat bergantung pada figur kepemimpinan sering kali menghadapi ketidakpastian ketika kepemimpinan berganti. Jika suatu hari prioritas pemerintah berubah, apakah dapur-dapur itu akan tetap hidup? Apakah rantang-rantang itu akan terus terisi? Ataukah semua infrastruktur mahal itu akan menjadi bangunan sunyi yang ditinggalkan oleh waktu?

Di trotoar ini, gadis kecil tadi masih memegang bendera kecilnya. Namun saat itu saya justru merasa kami para wartawan juga sering hanya melihat setengah kenyataan. Kami mengejar headline. Mengejar konflik. Mengejar pernyataan pedas. Namun, jarang sekali kami berhenti cukup lama untuk melihat seorang gadis yang duduk diam menatap bendera.

“Hey, gadis ini buta. Satu-satunya yang bisa ia lihat hanyalah bendera merah-putih. Kau sadar itu?” Ibu pemilik toko tadi rupanya mengikuti langkah saya. Kalimatnya barusan membuat napas saya tertahan. Perlahan air mata saya jatuh. Saya menatap gadis itu sekali lagi. Buta? Namun ia bisa melihat bendera. Sementara kami, orang-orang yang matanya sehat, sering kali tak benar-benar melihat apa pun dari merah-putih itu selain seremoni.

Bendera besar itu masih berkibar. Namun entah kenapa, untuk pertama kalinya dalam hidup saya sebagai wartawan, saya merasa bahwa bendera itu tidak sedang berkibar di langit negeri ini, tetapi sedang dipertanyakan oleh seorang gadis buta di trotoar kota.


Keesokan harinya, sebuah opini bertajuk “Sudahkah Kita Melihat?”, menampar siapa saja yang mempunyai penglihatan. Di dalamnya saya menulis:

Di sebuah lampu merah, saya bertemu seorang gadis yang tidak bisa melihat apa pun di dunia ini, kecuali merah-putih. Sementara kita yang memiliki mata justru sering gagal melihat arti merah-putih itu sendiri. Dan mungkin, yang sebenarnya buta di negeri ini bukanlah gadis ini, melainkan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *