Perjalanan Hidup Lurah Pekayon yang Menginspirasi
Lurah Pekayon, Ahmad Bakri, memiliki kisah perjuangan yang menginspirasi banyak orang. Dari seorang perantau asal Lampung yang sempat menjadi sopir angkot hingga akhirnya lolos CPNS pada 1993, ia telah menjalani karier selama 33 tahun sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Selama masa itu, ia menempati berbagai jabatan penting dan akhirnya dipercaya memimpin Kelurahan Pekayon.
Pria kelahiran Lampung ini merantau ke Jakarta setelah lulus SMA pada 1991. Ia pertama kali tinggal di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, menumpang di rumah pamannya. Seperti perantau lainnya, Ahmad Bakri datang ke Ibu Kota dengan harapan mengubah nasib. Namun, kondisi saat itu tidak mudah. Lapangan pekerjaan untuk lulusan SMA sangat terbatas.
Beberapa bulan mencari kerja tanpa hasil, Ahmad Bakri nyaris putus asa. Akhirnya, ia mendapat kesempatan menjadi sopir tembak angkutan umum mikrolet M31 rute Pondok Kelapa-Kampung Melayu. “Karena kondisi saat itu sulit cari kerja, saya jalani saja apa yang ada, termasuk jadi sopir tembak angkot,” kata Ahmad Bakri saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (10/4/2026).
Dari menarik angkot selama beberapa jam, mulai pukul 07.00 hingga 10.00 WIB, bisa mengantongi Rp 15.000 per hari. Nilai tersebut terbilang besar pada masanya. Meski demikian, Ahmad Bakri tidak ingin berlarut-larut. Ia tetap bertekad mendapatkan pekerjaan tetap di kantor.
Pada 1993, ia memberanikan diri mengikuti seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Pemprov DKI Jakarta. Berbekal tabungan, ia melengkapi persyaratan dan mengikuti tes. Hasilnya, Ahmad Bakri dinyatakan lolos dan mulai mengabdi sebagai staf di Kelurahan Pondok Kopi, Jakarta Timur.
Karier yang Berkembang
Kariernya terus berjalan. Setelah lama bertugas di Pondok Kopi hingga 2005, ia sempat pindah ke wilayah Matraman sebagai bendahara. Pada 2009, Ahmad Bakri ditempatkan di Kelurahan Cakung Barat. Di sana, ia dipercaya menjadi Kasi Pemerintahan hingga 2014. Ia kemudian bertugas di Kelurahan Kelapa Dua Wetan sebagai Sekretaris Kelurahan sekaligus Pelaksana Tugas (Plt) Lurah selama hampir dua tahun.
Puncaknya, pada November 2025, Ahmad Bakri dipercaya menjabat sebagai Lurah Pekayon, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur. “Semua pekerjaan kalau kita nikmati, jadi tantangan yang menarik,” ucapnya.
Impian Awal yang Berubah
Semasa kecil, Ahmad Bakri sempat bercita-cita menjadi Presiden Republik Indonesia. Namun, pandangannya berubah saat mulai bekerja sebagai tenaga honorer di lingkungan pemerintahan. “Dulu ingin jadi presiden, tapi saya sadar mengabdi tidak harus jadi presiden. Jadi ASN juga bisa,” ujarnya.
Ia mengenang, saat pertama menjadi PNS pada 1993, gaji yang diterima sekitar Rp 73.000 per bulan, yang saat itu masih terbatas untuk kebutuhan hidup di Jakarta. Meski begitu, ia tetap bersyukur. Baginya, menjadi ASN memberikan kebanggaan tersendiri. “Kalau dagang mungkin uangnya lebih besar, tapi jadi PNS ada kebanggaan dan penghormatan dari masyarakat,” tuturnya.
Komitmen dalam Pelayanan
Kini, sebagai Lurah Pekayon, Ahmad Bakri berkomitmen memberikan pelayanan terbaik sekaligus menyukseskan program Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. “Yang penting bagaimana memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat dan menjalankan amanah dengan baik,” pungkasnya.
Kolaborasi dengan TNI dan Polri
Sebagai lurah, Ahmad Bakri menghadapi tantangan tersendiri. Wilayah Pekayon memiliki karakter unik karena banyak dihuni keluarga besar TNI serta dikelilingi sejumlah markas militer. “Di sini ada empat markas TNI, jadi harus bisa berkolaborasi dengan TNI dan Polri,” katanya.
Kolaborasi itu diwujudkan dalam berbagai kegiatan, mulai dari kerja bakti, penataan lingkungan, hingga penanganan banjir. Saat banjir melanda 12 RW beberapa waktu lalu, pihak kelurahan bahkan menggandeng personel TNI untuk membantu penanganan di lapangan. “Kami minta bantuan rekan-rekan TNI untuk kerja bakti dan penanganan pascabanjir,” ujarnya.












