Keterlibatan TNI dalam Misi Perdamaian Dunia
Dandim 0822 Bondowoso, Letkol Inf Prawito, menekankan bahwa keterlibatan TNI dalam misi UNIFIL merupakan bukti nyata kontribusi daerah di kancah internasional. Mengingat situasi di Lebanon yang dinamis, ia memberikan instruksi tegas agar setiap prajurit mengedepankan kewaspadaan tinggi, disiplin, serta kepatuhan mutlak terhadap Standard Operating Procedure (SOP). Penugasan ini ditegaskan sebagai bentuk harga diri dan dedikasi tertinggi prajurit dalam menjaga perdamaian dunia.
Indonesia kembali menunjukkan kontribusi nyatanya dalam perdamaian dunia melalui pemberangkatan ratusan prajurit TNI Yonif 514/Sabaddha Yudha ke Lebanon. Dilepas langsung oleh jajaran Forkopimda Bondowoso pada Sabtu (4/4/2026), para prajurit diingatkan bahwa misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) atau Pasukan Sementara PBB di Lebanon membawa nama baik bangsa di mata dunia.
Letkol Inf Prawito menegaskan, kewaspadaan dan kepatuhan terhadap prosedur menjadi kunci utama dalam menjaga harga diri prajurit selama menjalankan tugas berat di wilayah yang penuh tantangan tersebut. Mewakili Indonesia dalam Misi Perdamaian PBB, upacara pelepasan Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-T/UNIFIL Lebanon berlangsung di lapangan Yonif 514, Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.
Mereka akan berangkat untuk mengikuti Pre-Deployment Training (PDT) di Bogor sebelum menjalankan misi perdamaian dunia di Lebanon. Upacara tersebut dihadiri oleh jajaran Forkopimda, di antaranya Dandim 0822 Bondowoso Letkol Inf Prawito, Kapolres Bondowoso AKBP Aryo Dwi Wibowo, serta jajaran lainnya. Dandim Letkol Inf Prawito menyampaikan rasa bangga atas keikutsertaan Yonif 514 dalam misi perdamaian PBB di Lebanon.
Prawito menyebut, keterlibatan ini menjadi bukti kontribusi daerah dalam kancah internasional. Kebanggaan dan Kontribusi Bondowoso di Kancah Internasional. Oleh karena itu, Prawito mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memberikan doa dan dukungan kepada para prajurit yang akan bertugas. “Kami mewakili warga Bondowoso sangat antusias dan bersyukur karena ada satuan dari wilayah kita yang mewakili Indonesia dalam penugasan internasional di Lebanon,” ujarnya.
Prawito pun mengingatkan prajurit agar selalu waspada selama menjalankan tugas, mengingat situasi di Lebanon yang dinilai tidak sepenuhnya kondusif. Pihaknya pun menekankan pentingnya disiplin dan kepatuhan terhadap prosedur operasi standar (SOP). “Selalu waspada, disiplin, dan taati SOP yang berlaku, yang paling utama, jangan lupa untuk selalu berdoa dan menyertakan Tuhan dalam setiap kegiatan,” ungkapnya.
Pesan Kewaspadaan dan Harga Diri Prajurit. Prawito menambahkan, tugas yang diemban merupakan bagian dari misi perdamaian dunia di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Oleh karena itu, setiap prajurit diharapkan menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi tinggi. “Penugasan adalah kebanggaan bagi seorang prajurit. Harga diri yang harus diperjuangkan dalam kondisi apa pun, baik di dalam maupun luar negeri,” kata Prawito.
Sebelum diberangkatkan ke Lebanon, para prajurit akan menjalani pelatihan intensif di Bogor sebagai bagian dari persiapan teknis dan taktis dalam misi UNIFIL.
Tiga Peacekeepers Indonesia Terluka
Sementara itu, sebanyak tiga personel peacekeepers Indonesia yang bertugas pada UNIFIL terluka akibat ledakan yang terjadi pada Jumat, 3 April 2026 di El Addaiseh, Lebanon selatan. Pemerintah RI melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) menyatakan insiden itu merupakan yang ketiga kalinya dalam kurun waktu satu pekan terakhir. “Hal ini merupakan insiden serius ketiga yang melibatkan peacekeepers Indonesia di UNIFIL dalam kurun waktu satu minggu terakhir,” bunyi keterangan Kemlu pada Sabtu (4/4/2026).
Pemerintah menegaskan, peristiwa yang terjadi berulang kali ini tak bisa diterima. Peacekeepers merupakan pasukan penjaga perdamaian yang dikirim oleh PBB ke wilayah-wilayah yang sedang mengalami konflik atau perang. Desakan Penyelidikan Menyeluruh. Kejadian itu menggarisbawahi pentingnya penguatan segera perlindungan bagi pasukan perdamaian PBB di tengah situasi konflik yang semakin berbahaya. Pemerintah pun meminta Dewan Keamanan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera mengusut peristiwa tersebut.
“Indonesia kembali meminta agar Dewan Keamanan PBB segera mengusut seluruh insiden terhadap UNIFIL dan agar segera dilakukan pertemuan antara negara kontributor pasukan untuk UNIFIL untuk melakukan review dan mengambil tindakan penguatan perlindungan terhadap pasukan yang bertugas di UNIFIL.” ungkap Kemlu. “Indonesia juga kembali menyerukan dilakukannya penyelidikan segera, menyeluruh, dan transparan untuk mengungkap fakta, termasuk kronologi kejadian serta pihak yang bertanggung jawab, dan menegaskan bahwa akuntabilitas penuh harus ditegakkan,” jelasnya.
Keselamatan Personel PBB Harga Mati
Insiden itu terjadi di tengah serangan Israel ke Lebanon. Operasi militer Israel yang terus berlanjut di Lebanon selatan, termasuk pernyataan untuk mempertahankan keberadaan Israel, disebut berisiko mendestabilisasi situasi dan terus membahayakan personel pasukan perdamaian PBB. Pemerintah kembali menegaskan bahwa keselamatan dan keamanan peacekeepers PBB tidak dapat ditawar.
“Setiap tindakan yang membahayakan mereka merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan tidak boleh dibiarkan tanpa pertanggungjawaban” jelas Kemlu. “Indonesia mendoakan pemulihan yang cepat bagi para personel yang terluka dan menyampaikan solidaritas kepada para personel beserta keluarganya,” sambungnya.












