Peran Energi Terbarukan dalam Membangun Kemandirian Nasional
Energi terbarukan (renewable energy) semakin menjadi perhatian utama di berbagai kalangan, baik itu masyarakat maupun para praktisi. Hal ini mengemuka dalam sebuah Expert Forum yang diselenggarakan oleh Global Darussalam Academy (GDA) pada hari Sabtu, 4 April 2026. Acara tersebut dihadiri oleh Abram Perdana, Ph.D., seorang praktisi energi yang memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman luas di bidang energi berkelanjutan.
Profil Abram Perdana: Pakar Energi Berkelanjutan
Abram Perdana, yang saat ini menjabat sebagai Principal Power System Analyst di RES Group, Inggris, adalah seorang ahli dalam bidang energi berkelanjutan. Ia pernah menjadi dosen Teknik Fisika di Universitas Gadjah Mada (UGM), kemudian melanjutkan studi S2 dan S3 di Swedia dengan fokus pada energi berkelanjutan. Pengalamannya ini menjadikannya sosok yang relevan untuk memberikan wawasan tentang isu energi yang kini menjadi prioritas global.
Menurut Founder Global Darussalam Academy, Muhammad Romahurmuziy, kehadiran Abram Perdana sangat penting di tengah dinamika geopolitik yang memengaruhi krisis energi fosil. “Dengan situasi global seperti konflik di Timur Tengah yang memicu krisis energi fosil, kehadiran beliau sangat relevan untuk memberikan insight kepada para siswa,” ujarnya.
Energi Terbarukan sebagai Komponen Utama
Abram Perdana menegaskan bahwa isu energi akan menjadi perhatian utama ke depan, baik bagi masyarakat maupun dunia pendidikan. “Saya kira isu energi ini akan semakin menjadi isu sentral bagi kita sebagai pendidik maupun masyarakat. Apa yang terjadi di Timur Tengah saat ini menjadikan kita sebagai bangsa harus menyiapkan diri, terutama dalam membangun sistem energi yang resilient,” katanya.
Ia menekankan bahwa salah satu komponen penting dalam sistem energi yang tangguh adalah penguatan energi terbarukan. Namun, ia menilai tidak perlu mempertentangkan energi fosil dengan energi terbarukan. “Kita tidak perlu terlalu mengkonfrontasikan antara energi fosil dan renewable energy. Renewable energy sekarang sudah menjadi pemain utama, bukan lagi pemain figuran,” tegasnya.
Pertumbuhan Kapasitas Energi Terbarukan
Secara global, kapasitas energi terbarukan menunjukkan pertumbuhan signifikan. “Sebanyak 700 ribu megawatt daya terpasang di dunia berasal dari renewable energy, dan itu merupakan 90 persen dari total kapasitas yang dibangun tahun lalu,” jelasnya.
Abram juga menyoroti pentingnya keseriusan pemerintah dalam merumuskan kebijakan energi terbarukan. Menurutnya, tanpa langkah konkret, Indonesia berpotensi tertinggal dalam persaingan global. “Kalau kita tidak menseriusi kebijakan renewable energy, kita akan dilindas oleh climate politics. Negara-negara maju mulai mensyaratkan industri memiliki jejak energi terbarukan yang tinggi, bahkan hingga 100 persen,” ujarnya.
Dampak pada Investasi dan Regulasi
Kondisi tersebut dapat berdampak pada investasi. Jika Indonesia tidak siap, peluang masuknya investasi asing bisa terhambat. “Kalau kita tidak menyiapkan diri, nanti tidak ada investasi yang masuk ke Indonesia,” katanya.
Ia juga menyoroti masih adanya tumpang tindih regulasi yang menyebabkan inefisiensi dalam pengembangan energi terbarukan di dalam negeri. “Saya lihat regulasi sudah banyak mengarah ke sana, tetapi masih ada tumpang tindih sehingga program belum sinkron. Ini menimbulkan inefisiensi dan membuat target sulit tercapai,” jelasnya.
Potensi Besar Energi Terbarukan di Indonesia
Abram menekankan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam energi terbarukan, mulai dari tenaga surya hingga panas bumi. Namun, diperlukan komitmen kuat untuk mencapai kemandirian energi. “Renewable energy itu tidak bisa dipindahkan. Matahari kita akan selalu ada di sini, begitu juga geothermal. Ini peluang besar untuk membangun kemandirian energi nasional,” ujarnya.
Ia menambahkan, penguatan energi terbarukan juga akan berdampak pada pengembangan industri lokal dan meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global. “Kalau kita membangun renewable energy yang kuat, pada akhirnya akan membangun kemandirian industri lokal. Ini penting agar kita tidak hanya menjadi pasar,” pungkasnya.












