Serangan Rudal dan Drone Iran ke Israel dan Fasilitas Militer AS
Garda Revolusi Iran melakukan serangan rudal dan drone terhadap sejumlah target di Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat (AS) di negara-negara Teluk. Serangan ini dilakukan sebagai balasan atas serangan yang dilakukan oleh AS dan Israel sejak akhir Februari lalu.
Serangan yang terjadi pada Jumat dini hari melibatkan rudal jarak jauh dan menengah, serta drone perusak dan pengintai. Target serangan di Israel mencakup tangki penyimpanan dan depot minyak di Ashdod, lokasi personel militer di permukiman Modi’in, serta pusat pertukaran informasi militer AS di kawasan tersebut.
Di wilayah Teluk, serangan juga menimpa fasilitas militer AS di Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Bahrain. Beberapa fasilitas yang diserang antara lain:
- Pangkalan militer Al-Dhafra, Uni Emirat Arab
- Pangkalan udara Al-Udeid, Qatar
- Hanggar perawatan dan penyimpanan pesawat angkut dan drone di pangkalan udara Ali Al-Salem, Kuwait
- Tangki bahan bakar jet tempur AS dan hanggar sistem rudal Patriot di pangkalan Sheikh Isa, Bahrain
Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa serangan ini dilakukan dengan “kesuksesan penuh”. Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari Israel maupun negara-negara Teluk mengenai dampak dari serangan terbaru tersebut.
Iran Minta Warga Timur Tengah Hindari Daerah Dekat Pasukan AS
Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meminta warga sipil di seluruh kawasan Timur Tengah untuk menjauhi daerah-daerah yang berdekatan dengan pasukan Amerika Serikat (AS). Seruan ini disampaikan pada hari Jumat (27/3), hampir sebulan setelah perang dengan AS dan Israel dimulai.
IRGC menuduh pasukan Israel dan AS menggunakan “perisai manusia” dalam operasi mereka. Dalam pernyataan resmi mereka, IRGC menyebut: “Pasukan Amerika-Zionis yang pengecut sedang berusaha menggunakan lokasi sipil dan orang-orang tak berdosa sebagai perisai manusia.”
Mereka juga menyarankan warga untuk segera meninggalkan lokasi di mana pasukan AS ditempatkan agar tidak membahayakan diri mereka sendiri. Seruan ini disampaikan beberapa jam setelah militer Iran mengancam akan menargetkan hotel-hotel yang menampung tentara AS di seluruh wilayah tersebut.
“Ketika semua pasukan Amerika masuk ke sebuah hotel, maka dari perspektif kami, hotel itu menjadi milik Amerika,” kata juru bicara angkatan bersenjata Iran, Abolfazl Shekarchi, kepada televisi pemerintah Iran pada hari Kamis (26/3).
Ia menambahkan: “Apakah kita hanya akan diam dan membiarkan Amerika menyerang kita? Ketika kita merespons, tentu saja kita harus menyerang di mana pun mereka berada.”
Perang Berlanjut Sejak Serangan Awal Februari
Sebelumnya, pada 28 Februari lalu, Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran, yang menewaskan pemimpin tertingginya, Ayatollah Ali Khamenei dan memicu perang. Perang tersebut sejak itu menyebar ke seluruh Timur Tengah, dengan Iran melancarkan serangan drone dan rudal terhadap Israel dan kepentingan AS di wilayah tersebut.
Pada hari Kamis (26/3), Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuduh pasukan AS menggunakan orang-orang di negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) sebagai “perisai manusia”.
“Sejak awal perang ini, tentara AS melarikan diri dari pangkalan militer di negara-negara GCC untuk bersembunyi di hotel dan kantor,” katanya dalam sebuah unggahan di media sosial X.
Dia juga menyerukan kepada hotel-hotel di wilayah tersebut untuk menolak pemesanan kamar bagi pasukan AS. Menurut sumber yang tidak disebutkan namanya, otoritas Iran telah mengirimkan “peringatan keras” kepada hotel-hotel di wilayah tersebut, khususnya di Uni Emirat Arab dan Bahrain.
Ditambahkan bahwa militer Iran telah mengidentifikasi pasukan AS yang menggunakan lokasi serupa di Suriah, Lebanon, dan Djibouti.












