Hendrik MBG Kecam Penutupan SPPG, Prihatin Nasib Relawan

Penutupan Sementara SPPG Pangauban di Batujajar

Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pangauban di Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), resmi dihentikan sementara oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Keputusan ini diambil setelah munculnya kontroversi yang bermula dari video joget Hendrik Irawan, yang sempat viral di media sosial. Video tersebut menimbulkan kegaduhan publik dan memicu tindakan administratif terhadap SPPG yang ia kelola.

Hendrik secara pribadi mengaku terkejut dengan reaksi yang terjadi. Ia menyatakan bahwa perbuatan joget dalam ruangan SPPG tidak disengaja dan tidak bermaksud melanggar protokol. Namun, ia merasa bahwa kejadian tersebut berdampak besar hingga akhirnya membuat BGN mengambil langkah tegas.

“Saya merasa kaget, permasalahan ini menjadi besar. Memang ada kesalahan saya, tidak mematuhi protokol dengan nge-dance di ruangan. Saya tidak menyangka akan seviral ini,” ujar Hendrik saat memberikan keterangan pada Rabu (25/3/2026).

Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada Presiden Prabowo Subianto dan masyarakat luas atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan. Hendrik mengakui bahwa selama ini kualitas menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diproduksi dapurnya selalu terjaga. Menurutnya, tidak pernah ada keluhan berarti dari para penerima manfaat terkait standar gizi maupun kebersihan makanan.

Namun, di balik penghentian operasional ini, Hendrik mengaku sangat terpukul saat memikirkan nasib para relawannya. Terlebih, momen ini bertepatan dengan masa pasca-Lebaran di mana kebutuhan ekonomi para pekerja sedang tinggi.

“Saya prihatin bagaimana nasib relawan saya yang selama ini benar-benar semangat. Apalagi ini habis Lebaran, saya merasa sedih,” ungkap pria yang akrab disapa Hendrik MBG ini.

Kontroversi Video Joget dan Insentif

Sebelumnya, Hendrik menjadi sorotan warganet setelah mengunggah video joget yang menyebutkan angka insentif mencapai Rp 6 juta per hari dari program MBG. Konten tersebut dinilai kurang peka terhadap polemik program nasional yang tengah berjalan.

Langkah Hendrik semakin membuat kegaduhan setelah melaporkan beberapa akun ke Polres Cimahi terkait pelanggaran UU ITE. Klarifikasinya menegaskan bahwa informasi yang beredar di berbagai media sosial telah mengalami distorsi, sehingga berdampak buruk pada reputasinya secara pribadi.

Menurutnya, narasi yang berkembang di tengah masyarakat tidak mencerminkan kondisi yang sebenarnya. Ia menegaskan bahwa dapur SPPG yang ia kelola dibangun menggunakan dana pribadi, bukan dari anggaran negara. Ia mengklaim telah merogoh kocek hingga Rp 3,5 miliar untuk membuat mendukung program nasional tersebut.

Terkait angka Rp 6 juta yang ramai diperbincangkan, Hendrik bilang bahwa nilai tersebut merupakan insentif bangunan bagi seluruh mitra yang bergabung, bukan penghasilan pribadi semata. Meski menerima jutaan rupiah per hari, ia mengaku saat ini belum mencapai titik balik modal (break even point).

“Yang menerima Rp 6 juta tuh bukan saya, semua mitra yang bergabung dengan program semua menerima Rp 6 juta, itu untuk insentif bangunan yang kami buat,” ucap Hendrik.

Menghadapi kecurigaan publik, Hendrik menyatakan dirinya sangat terbuka jika pihak berwenang ingin melakukan pemeriksaan keuangan terhadap operasional SPPG miliknya.

Langkah Hukum dan Penutupan Sementara

Rasa tidak nyaman terhadap narasi yang beredar membuat Hendrik mengambil langkah hukum. Ia telah mendatangi Polres Cimahi untuk melaporkan akun-akun yang menyebarkan berita bohong (hoax). “Ada dua akun yang saya laporkan. Ke satu, akun yang meng-up tanpa seizin saya, dan itu sudah masuk ke ranah hukum.”

Meski Hendrik sudah menyampaikan klarifikasi, BGN tetap mengambil langkah tegas dengan membekukan sementara aktivitas di SPPG Pangauban guna evaluasi lebih lanjut.

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang, menegaskan BGN tak hanya menyayangkan tindakan Hendrik, tapi juga marah. Ia mengingatkan bahwa SPPG bukanlah sebuah bisnis. Lebih lanjut, Nanik menyoroti viral video joget pria tersebut di dalam sebuah dapur MBG tanpa dilengkapi APD.

Nanik mengingatkan agar mitra MBG tidak bersikap aneh-aneh. Ia mengancam mitra yang melakukan tindakan serupa akan disanksi tutup dapur MBG.

“Ya saya minta mitra itu low profile lah jangan aneh-aneh, kalau ada yang aneh-aneh nanti saya suspend atau malah kita hentikan dapurnya,” tutur Nanik.

Selain itu, Nanik menyebut dapur Hendrik rupanya salah layout dan instalasi pengolahan air limbah (IPAL)-nya tidak benar. Karena kedua hal itu, dapur Hendrik kini di-suspend atau dihentikan sementara.

“Dapurnya sudah kita suspend, bukan perkara dia nari, tapi karena layout-nya salah dan IPAL tidak sempurna,” ucap Nanik.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *