Opini  

Pandangan: Laut yang Kita Doakan, Alam yang Kita Hancurkan

Laut yang Menyembunyikan Kekhawatiran

Di pesisir Sabu Raijua, pagi selalu datang dengan cara yang hampir tidak berubah. Perahu kecil bergerak perlahan meninggalkan pantai, jaring ditebar dengan harapan yang sama seperti kemarin dan laut terbentang luas seolah tidak pernah menyimpan kegelisahan apa pun. Bagi banyak orang, laut bukan sekadar bentangan air, melainkan ruang hidup yang memberi makan, menopang keluarga dan menjaga keberlanjutan hari esok.

Namun di balik ketenangan yang tampak itu, ada sesuatu yang pelan-pelan bergeser, sesuatu yang tidak langsung terlihat oleh mata, tetapi mulai terasa dalam hasil tangkapan yang tidak lagi pasti dan dalam perubahan kecil yang terus berulang. Data tentang kondisi terumbu karang di perairan Sabu Raijua memperlihatkan kenyataan yang tidak bisa diabaikan. Tutupan karang hidup berada pada kisaran 16 persen hingga 58,72 persen dengan rata-rata sekitar 35,90 persen, sebuah kondisi yang menempatkan ekosistem ini dalam rentang yang belum runtuh tetapi juga jauh dari sehat.

Komposisi dasar laut masih didominasi oleh karang, disusul batuan dan lamun, namun kualitasnya di sejumlah wilayah mulai menurun secara perlahan. Pada saat yang sama, lamun yang justru berfungsi menopang kehidupan laut sering dipersepsikan sebagai pengganggu dalam aktivitas budidaya rumput laut, sehingga keberadaannya tidak selalu dihargai sebagaimana mestinya.

Sementara itu, budidaya rumput laut yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi masyarakat pesisir mulai menghadapi tekanan akibat perubahan suhu laut, melemahnya arus dan meningkatnya penyakit, yang semuanya menandakan bahwa keseimbangan ekologis sedang terganggu. Di daratan, abrasi terus mengikis garis pantai dan dalam beberapa kasus diperparah oleh aktivitas penambangan pasir yang masih berlangsung.

Semua perubahan ini tidak datang sebagai peristiwa besar yang mengejutkan, melainkan sebagai rangkaian perubahan kecil yang terjadi terus menerus hingga akhirnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Laut masih memberi, tetapi tidak lagi dengan kelapangan yang sama seperti sebelumnya dan justru karena ia belum benar-benar berhenti memberi, kita sering kali tidak menyadari bahwa ia sedang menanggung beban yang semakin berat.

Cara Kita Melihat Laut

Jika ditelusuri lebih dalam, persoalan pesisir Sabu Raijua tidak berhenti pada kerusakan ekologis, melainkan menyentuh cara manusia memandang ciptaan itu sendiri. Laut yang semula dipahami sebagai ruang kehidupan bersama perlahan berubah menjadi ruang produksi yang dinilai berdasarkan hasil yang bisa diperoleh darinya, sehingga keberadaannya diukur bukan dari keberlanjutan yang dijaga, tetapi dari produktivitas yang dihasilkan.

Dalam cara pandang seperti ini, segala sesuatu yang tidak secara langsung mendukung produksi cenderung dianggap sebagai hambatan, termasuk ekosistem seperti lamun yang sebenarnya berperan penting dalam menjaga keseimbangan laut. Namun perubahan cara pandang ini tidak bisa dilepaskan dari realitas sosial ekonomi yang dihadapi masyarakat pesisir.

Ketergantungan pada laut sebagai sumber penghidupan membuat pilihan menjadi terbatas, sehingga banyak keputusan yang diambil bukan karena ideal, melainkan karena diperlukan untuk bertahan hidup. Seperti yang diingatkan oleh Amartya Sen, keterbatasan pilihan sering kali memaksa manusia untuk mengambil keputusan yang dalam jangka panjang justru merugikan dirinya sendiri.

Hidup dalam Tekanan

Dari keseluruhan gambaran ini, tampak bahwa pesisir Sabu Raijua tidak berada dalam kondisi yang sepenuhnya rusak, tetapi juga tidak bisa disebut sehat. Ia berada dalam suatu kondisi yang dapat digambarkan sebagai sistem yang masih berfungsi, tetapi dalam tekanan yang terus meningkat, di mana laut masih memberi, tetapi dengan biaya ekologis yang semakin mahal, sementara masyarakat tetap bergantung pada laut dengan tingkat ketidakpastian yang semakin tinggi.

Dalam situasi seperti ini, manusia berada dalam posisi yang tidak mudah, karena di satu sisi ia membutuhkan laut untuk bertahan hidup, tetapi di sisi lain cara hidupnya sendiri dapat mempercepat penurunan kualitas laut tersebut. Upaya menjaga sebenarnya tidak pernah benar-benar absen. Penyu dilindungi di beberapa lokasi penting peneluran, mangrove ditanam untuk menahan abrasi dan berbagai program dijalankan untuk memperbaiki kondisi pesisir.

Namun sering kali upaya ini terasa seperti bagian-bagian yang berdiri sendiri, tidak terhubung dalam satu kerangka besar yang mampu menjawab akar persoalan. Kita melihat upaya penyelamatan di satu sisi, tetapi pada saat yang sama membiarkan faktor-faktor yang merusak tetap berlangsung, sehingga hasilnya tidak pernah benar-benar tuntas.

Imran dan Ciptaan

Pada akhirnya, pembacaan atas realitas ini membawa kita pada pertanyaan yang lebih dalam, yaitu bagaimana iman dipraktikkan dalam relasi dengan ciptaan. Kitab Kejadian menyatakan bahwa manusia ditempatkan di taman untuk mengusahakan dan memelihara, sebuah panggilan yang mengandung keseimbangan antara bekerja dan menjaga. Namun dalam praktik kehidupan sehari-hari, keseimbangan ini sering kali tidak terjaga, sehingga manusia lebih kuat dalam mengusahakan daripada memelihara, lebih aktif mengambil daripada menjaga keberlanjutan.

Akibatnya, laut tetap disebut sebagai berkat dalam doa, tetapi dalam praktiknya diperlakukan sebagai objek yang bisa terus dimanfaatkan. Di sinilah krisis ekoteologi menjadi nyata, bukan sebagai konsep abstrak, tetapi sebagai realitas yang hadir dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana ditegaskan oleh Pope Francis, krisis ekologi pada dasarnya adalah krisis relasi, ketika manusia kehilangan cara untuk melihat ciptaan sebagai rumah bersama yang harus dijaga.

Pesisir Sabu Raijua memperlihatkan krisis ini dengan sangat jelas, tetapi juga sekaligus membuka ruang untuk refleksi yang lebih jujur. Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah laut sedang rusak, tetapi apakah cara kita memandang dan memperlakukan laut masih sejalan dengan iman yang kita akui. Jika tidak, maka perubahan tidak cukup dimulai dari luar, tetapi harus dimulai dari dalam, dari cara berpikir, cara memilih dan cara hidup yang lebih utuh.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *