3 Fakta Jembatan Mahulu Setelah 3 Kali Ditabrak, PUPR Pastikan Aman

Jembatan Mahulu Dinyatakan Masih Aman Setelah Dua Kali Uji Dinamik

Jembatan Mahulu di Samarinda, Kalimantan Timur, kini mendapatkan kepastian terkait kondisi strukturnya setelah mengalami tiga kali insiden tabrakan dengan tongkang. Hasil uji dinamik yang dilakukan oleh pemerintah provinsi menunjukkan bahwa jembatan masih aman dan layak dilintasi kendaraan berat.

Uji dinamik ini dilaksanakan untuk memastikan bahwa tidak ada penurunan kekuatan struktur akibat dampak dari insiden-insiden sebelumnya. Metode pengujian ini melibatkan pemberian beban dan getaran terkontrol agar dapat mengukur respons struktur terhadap gaya luar. Pengujian dilakukan pada Rabu (4/2/2026) dan merupakan uji kedua setelah serangkaian insiden tabrakan terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

Hasil Uji: Struktur Masih Layak Digunakan

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat (PUPR-Pera) Kalimantan Timur, Aji Muhammad Fitra Firnanda, menjelaskan bahwa hasil uji menunjukkan bahwa struktur jembatan masih baik dan layak digunakan. Ia menyampaikan bahwa kendaraan berat seperti truk roda delapan masih bisa melintas dengan aman.

“Baik, masih baik, masih layak untuk dilewati. InsyaAllah tidak ada masalah, karena dari hasil uji tidak ada yang terlalu signifikan perubahannya,” ujarnya.

Untuk memastikan objektivitas hasil uji, Dinas PUPR-Pera menggandeng tim ahli struktur dari Universitas Gadjah Mada. Proses uji dinamik ini menjadi langkah penting dalam memastikan keamanan jembatan bagi masyarakat dan pengguna jalan.

Tiga Insiden Tabrakan dan Proses Perbaikan

Dalam kurun waktu akhir 2025 hingga awal 2026, tercatat tiga insiden tabrakan tongkang terhadap Jembatan Mahulu. Insiden pertama terjadi pada 23 Desember 2025, ketika tiga fender (struktur pelindung pilar jembatan dari benturan kapal) hilang tersapu arus Sungai Mahakam setelah tertabrak. Nilai perbaikan untuk kerusakan ini ditaksir mencapai sekitar Rp31 miliar.

Tabrakan kedua terjadi pada 4 Januari 2026 dini hari, yang menyebabkan salah satu pilar jembatan mengalami rompal atau kerusakan pada bagian permukaan beton. Nilai perbaikannya lebih kecil, sekitar Rp100 juta.

Insiden ketiga terjadi pada 25 Januari 2026, kembali mengenai fender serta pilar P9 dan P10. Secara visual, kerusakan dinilai tidak serius, namun tetap memerlukan perbaikan teknis untuk menjamin keamanan jangka panjang.

Fitra menjelaskan bahwa proses perbaikan untuk insiden kedua hampir rampung. Sementara itu, proses penunjukan kontraktor untuk insiden pertama dan ketiga sedang berjalan. Ia menegaskan bahwa seluruh biaya dan proses perbaikan menjadi tanggung jawab perusahaan pemilik tongkang yang menabrak. Pemerintah daerah hanya akan menerima hasil pekerjaan yang sudah tuntas sesuai standar teknis.

Pengawasan dan Tanggung Jawab

Meskipun struktur jembatan dinyatakan aman, pengawasan tetap dilakukan secara ketat. Mengingat posisi Jembatan Mahulu yang berada di atas Sungai Mahakam, risiko tabrakan tetap menjadi perhatian serius. Dengan karakter sungai yang dinamis dan arus kuat, keberadaan fender sangat penting dalam sistem perlindungan jembatan.

Oleh karena itu, perbaikan pelindung tersebut menjadi prioritas agar insiden serupa tidak berdampak lebih besar di kemudian hari. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur juga berkomitmen untuk terus memantau kondisi jembatan dan melakukan tindakan preventif jika diperlukan.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *