Rasa Duka yang Menggema di Klaten dan Karanganyar
Di tengah suasana duka yang menyelimuti kampung halaman, sejumlah warga terlihat berkumpul untuk memberikan dukungan kepada keluarga korban kecelakaan pesawat ATR 42-500. Salah satu tempat yang menjadi pusat perhatian adalah rumah duka milik Dyah Aprilia, istri dari Restu Adi Pribadi, salah satu korban tewas dalam kejadian tersebut.
Restu, yang merupakan teknisi pesawat, meninggal dunia bersama enam orang lainnya dalam kecelakaan yang terjadi di Sulawesi Selatan. Saat ini, jenazahnya disemayamkan di Dukuh Tlangu Kulon, RT 02 RW 01, Desa Bulan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten. Tempat tersebut telah dipadati oleh ratusan pelayat yang datang silih berganti untuk menyampaikan doa dan belasungkawa.
Di meja yang disiapkan sebagai tempat penyemayaman jenazah, terpajang foto Restu dalam seragam dinasnya. Di sekitar rumah duka, karangan bunga ucapan duka cita berjejer rapi, sementara kursi-kursi juga telah disusun untuk menampung para pelayat yang jumlahnya semakin bertambah.
Warga dan petugas dari Kementerian Kelautan dan Perikanan juga telah melakukan persiapan-persiapan penting. Mulai dari pemasangan tenda, penyiapan area parkir, hingga pengaturan jalur iring-iringan ambulans yang akan membawa jenazah almarhum ke rumah duka. Jenazah Restu akan dibawa ke Masjid Baitul Hikmah untuk disalatkan sebelum akhirnya dimakamkan di TPU Sidoharjo Wetan, Desa Sidoharjo, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten.
Penguburan Jasad Hariadi di Karanganyar
Di sisi lain, jenazah Hariadi, salah satu awak kru pesawat ATR 42-500 yang jatuh di lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, akan dimakamkan di Desa Karangrejo, Kecamatan Kerjo, Kabupaten Karanganyar pada Minggu (25/1/2026) sore. Sebelum dimakamkan, jenazah akan disemayamkan terlebih dahulu di rumah duka Perumahan Puri Kahuripan 3, Desa Jati, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar.
Beberapa warga telah memasang kanopi di depan rumah yang berlokasi di RT 03 RW 08 tersebut. Deretan karangan bunga ucapan belasungkawa juga berjajar di sepanjang akses menuju rumah duka. Ketua RT 03 RW 08 Puri Kahuripan 3, Rudi Hermawan, mengatakan bahwa jenazah diperkirakan tiba di rumah duka sekira pukul 13.00. Setelah disemayamkan, jenazah akan diberangkatkan menuju tempat pemakaman di Dusun Karangnongko, Desa Karangrejo, Kecamatan Kerjo, Kabupaten Karanganyar.
Komunikasi Terakhir dengan Istri
Sabtu, 18 Januari 2026 menjadi komunikasi terakhir Hariadi dengan sang istri, Rira. Hariadi, yang merupakan warga Desa Jati, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, tercatat sebagai kru pesawat ATR 42-500 yang mengalami kecelakaan di wilayah pegunungan Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Seperti biasa, Hariadi menyempatkan diri melakukan panggilan video sebelum menjalankan tugasnya. Namun setelah hari itu, keluarga justru menerima kabar buruk. Pesawat ATR 42-500 yang ditumpangi Hariadi dinyatakan hilang kontak.
Pada Minggu (20/1/2026), puing-puing pesawat tersebut ditemukan di lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Kebiasaan Hariadi sebelum menjalankan tugas adalah mengabari istrinya melalui panggilan video. Rutinitas itu juga dilakukan pada Sabtu pagi, 18 Januari 2026, yang tanpa disadari menjadi komunikasi terakhir mereka.
Dikenang Sosok Pekerja Keras
Hari mengatakan bahwa kakak iparnya adalah pribadi yang hangat dan berdedikasi terhadap keluarga. “Sosok kakak ipar saya merupakan orang baik, pekerja keras, sayang istri dan keluarga, beliau family man,” kata Hari. Menurutnya, Hariadi dikenal selalu mengutamakan keluarga di tengah kesibukannya bekerja di dunia penerbangan.
Hari mengungkapkan bahwa Hariadi telah menekuni profesi di bidang penerbangan sejak sebelum pandemi Covid-19. Total, dia sudah sekitar lima tahun bekerja sebagai awak pesawat. Dalam pekerjaannya, Hariadi bertugas sebagai Virtual Aviation Assistant (VAA) atau awak kabin pesawat.
Sebagai informasi, pesawat turboprop ATR 42-500 yang dioperasikan Indonesia Air Transport dilaporkan jatuh di wilayah pegunungan Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada pertengahan Januari 2026. Pesawat tersebut sedang menjalankan misi penerbangan surveilans dan membawa total 10 orang yang terdiri dari kru dan penumpang dari instansi pemerintah. Pada 18 Januari 2026, tim SAR menemukan puing-puing pesawat di lereng Gunung Bulusaraung pada ketinggian lebih dari 1.300 meter di atas permukaan laut. Beberapa bagian badan pesawat dan ekor ditemukan dalam kondisi hancur.










