Pre-Summit 2026, Kolaborasi Indonesia-India Bangun Ekosistem AI Inklusif

Kemitraan Indonesia-India Berupaya Membangun Ekosistem AI yang Inklusif

MicroSave Consulting (MSC) bersama Kedutaan Besar India di Jakarta, India Indonesia Chamber of Commerce (IndCham), serta Women Entrepreneurship Platform (WEP) di bawah NITI Aayog, menggelar The Official Pre-Summit Event 2026. Acara ini menjadi wadah penting untuk memperkuat kerja sama antara Indonesia dan India dalam mendorong pengembangan kecerdasan buatan (AI) yang inklusif, berorientasi pada manusia, serta berlandaskan tata kelola yang etis dan berkelanjutan.

Forum tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pejabat tinggi pemerintah, pimpinan industri, mitra pembangunan global, hingga para pakar teknologi dari kedua negara. Dialog ini menegaskan keselarasan antara prioritas nasional AI India dan Indonesia.

Prioritas Nasional AI di India dan Indonesia

India menempatkan inovasi yang bertanggung jawab sebagai fokus utama, sekaligus mendorong pengembangan teknologi AI yang multibahasa dan mudah diakses melalui kerangka people, planet, and progress. Kerangka ini menekankan integrasi AI dengan infrastruktur publik digital guna memastikan akses yang adil dan berskala luas.

Sementara itu, Strategi Nasional AI Indonesia 2020–2045 beserta kerangka etika AI menitikberatkan pada prinsip kepercayaan, transparansi, pengembangan talenta, dan akuntabilitas dalam penerapan AI di sektor-sektor prioritas nasional. Sektor tersebut mencakup kesehatan, tata kelola pemerintahan, pendidikan, ketahanan pangan, dan mobilitas.

Kedua negara sepakat memandang AI sebagai pendukung dalam memperkuat layanan publik, memperluas peluang ekonomi, serta meningkatkan ketangguhan perempuan, pekerja sektor informal, dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Peran Pemerintah dan Dunia Usaha

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi) Nezar Patria melalui special remarks menegaskan bahwa kemitraan Indonesia dan India membuka peluang besar untuk pengembangan kecerdasan artifisial yang berorientasi pada kepentingan publik. “Pertumbuhan ekonomi digital di kedua negara menjadi peluang strategis untuk memanfaatkan AI secara aman, tepercaya, dan berpusat pada manusia guna menjawab tantangan publik, mulai dari inklusi keuangan hingga ketahanan iklim,” ujarnya.

Ia menambahkan, penguatan tata kelola dan investasi pada infrastruktur dasar AI menjadi kunci agar inovasi AI berkembang secara inklusif dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat. Ia menyoroti terbukanya ruang kerja sama yang lebih erat di bidang ini sebagaimana tertuang dalam nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani antara India dan Indonesia saat kunjungan Prabowo ke India pada awal 2025.

Duta Besar India untuk Indonesia Sandeep Chakravorty turut menegaskan bahwa kecerdasan buatan memiliki peran strategis dalam mendorong kemaslahatan sosial. Termasuk peningkatan layanan publik, perluasan inklusi keuangan, serta penguatan sistem perlindungan sosial berbasis kebutuhan. “Dialog ini tidak hanya membahas teknologi, tetapi juga langkah-langkah konkret untuk membangun ekosistem AI yang inklusif dan berkelanjutan menjelang India–AI Impacts Summit 2026 di New Delhi,” ujarnya.

Kolaborasi Lintas Industri dan Inklusi

President Director & CEO Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha menekankan pentingnya kolaborasi lintasindustri sebagai kunci untuk menerjemahkan visi kebijakan AI ke dalam dampak ekonomi yang nyata. Menurutnya, interoperabilitas sistem AI, kemitraan bisnis Indonesia–India, serta penguatan ekosistem startup dan UMKM menjadi fondasi penting agar pengembangan AI tidak berhenti pada inovasi teknologi semata, tetapi mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, efisien, dan berdaya saing, dengan pembelajaran manusia sebagai penggerak utama.

Programme Director sekaligus Mission Director pada Women Entrepreneurship Platform (WEP) Anna Roy menekankan upaya India dalam memberdayakan inovasi AI yang dipimpin oleh perempuan. Ia menyampaikan bahwa ekosistem AI yang inklusif harus menjamin akses yang setara terhadap keterampilan, perangkat, dan peluang bagi perempuan serta inovator muda di kawasan.

Diskusi Panel dan Penutupan Acara

Acara ini juga menghadirkan diskusi panel strategis yang mempertemukan pembuat kebijakan, sektor swasta, lembaga filantropi, dan organisasi pembangunan multilateral untuk membahas pengembangan AI yang inklusif. Acara ditutup dengan sambutan penutup dari Grace Retnowati, Partner dan Country Head MSC Southeast Asia.

Dia menyampaikan komitmen MSC dalam mendorong pengembangan kecerdasan artifisial (AI) yang berpusat pada manusia dan inklusif di kawasan Asia Tenggara. Sebagai anggota Alliance for Inclusive AI, MSC membawa pengalaman berbasis praktik dalam memajukan penerapan AI yang bertanggung jawab, sejalan dengan penekanan acara pada inovasi yang berorientasi pada manusia dan berdampak berkelanjutan.

“Nilai penting AI akan terasa ketika teknologi ini mampu menjunjung martabat manusia, memperluas kesempatan, dan memberdayakan komunitas. MSC akan terus berkolaborasi dengan pemerintah dan pelaku industri untuk memastikan sistem AI dirancang secara bertanggung jawab dan dapat diakses secara luas,” ujar Grace.

Pre-Summit ini menegaskan satu prioritas penting: pengembangan sistem AI tidak hanya menuntut kapabilitas digital yang maju, tetapi juga harus adil, transparan, responsif terhadap isu gender, serta selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Berbagai gagasan dan kolaborasi yang terbangun di Jakarta ini akan menjadi fondasi penting bagi AI Impact Summit 2026 di New Delhi, India, pada 19–20 Februari 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *