Dua Versi Peristiwa Pengeroyokan Guru oleh Siswa SMKN 3 Berbak
Peristiwa pengeroyokan guru oleh siswa SMKN 3 Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, menjadi sorotan publik setelah terekam dalam video dan viral di media sosial. Insiden ini terjadi pada Selasa (13/1/2026) di lingkungan sekolah. Namun, masing-masing pihak, baik siswa maupun guru, memberikan versi berbeda mengenai peristiwa tersebut.
Versi Siswa: Awal dari Tamparan di Kelas
Siswa SMKN 3 Berbak yang ditampar oleh guru Agus Saputra, Muhammad Luthfi Fadillah, menjelaskan bahwa peristiwa bermula saat kegiatan belajar mengajar hampir selesai. Saat itu, suasana kelas sempat ribut, sehingga ia menegur teman-temannya agar diam dengan mengucapkan “woi, diam”.
Menurut Luthfi, ucapan tersebut terdengar oleh guru Agus Saputra yang sedang melintas di depan kelas. Ia kemudian masuk ke kelas dan menanyakan siapa yang memanggilnya dengan kata tersebut. Luthfi mengaku dan menjawab, “Saya, Prince”. Menurutnya, guru tersebut tidak ingin dipanggil dengan sebutan “Bapak” dan meminta dipanggil “Prince”.
Setelah itu, Luthfi diminta maju ke depan kelas dan ditampar oleh guru Agus Saputra. Ketegangan berlanjut saat para siswa meminta guru menyampaikan permintaan maaf karena dinilai telah menghina orang tua salah satu siswa. Permintaan itu tidak tercapai, hingga mereka dibawa ke kantor sekolah.
Di lokasi tersebut, Luthfi mengaku kembali mendapat ejekan dan kemudian dipukul di bagian hidung. Menurutnya, pukulan itu memicu reaksi spontan siswa lain hingga berujung pada pengeroyokan terhadap guru Agus Saputra.
Versi Guru: Cekcok dan Tantangan Siswa
Dari sisi guru, Agus Saputra mengatakan bahwa saat proses belajar mengajar berlangsung, sekitar pukul 09.00-10.00 WIB, ia ditegur seorang siswa dengan nada tidak sopan dari dalam kelas. “Dia menegur saya dengan kata-kata tidak pantas. Saya masuk ke kelas dan menanyakan siapa yang memanggil saya seperti itu,” ujar Agus.
Menurutnya, siswa tersebut mengaku dan bahkan menantangnya. Agus mengakui sempat menampar siswa itu satu kali secara refleks. Ketegangan pun berlanjut hingga jam istirahat. Situasi memanas ketika sejumlah siswa mengejar Agus hingga ke halaman sekolah dan melakukan kekerasan fisik.
Guru-guru lain kemudian melerai dan membawa Agus ke ruangan untuk menghindari aksi lanjutan.
Mediasi Gagal, Berujung Pengeroyokan
Tak berapa lama setelah kejadian, Agus mengatakan telah dilakukan mediasi di sekolah. Dalam pertemuan itu, siswa meminta Agus menyampaikan permintaan maaf. Di sisi lain, Agus menawarkan solusi berupa petisi untuk mengetahui apakah siswa masih menginginkannya mengajar atau berkomitmen memperbaiki perilaku.
Namun, seusai mediasi, Agus mengaku kembali didatangi siswa lintas kelas saat berada di kantor sekolah. “Di situlah terjadi pengeroyokan oleh anak kelas 1, 2, dan 3,” katanya. Ia juga menuturkan ada siswa yang membawa senjata tajam. Sementara itu, beredar juga potongan video Agus Suparta terlihat memegang sabit.
Menurutnya, sabit tersebut merupakan alat pertanian yang tersedia di sekolah karena SMKN 3 Berbak merupakan SMK Pertanian. “Saya hanya menggertak agar mereka bubar, tidak ada niat menyakiti,” tegasnya.
Laporan Dinas dan Laporan Polisi
Pascakejadian, Agus melaporkan peristiwa itu ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi. Agus Suparta mengatakan telah mengajar sekitar 15 tahun dan baru pertama kali mengalami kejadian seperti ini. Di sisi lain, dia mengaku sudah 2-3 tahun terakhir kerap mengalami perundungan verbal dari sejumlah siswa.
“Saya berharap ada mediasi dan penanganan serius agar persoalan tidak berlarut-larut,” katanya. Namun, akhirnya, pada Kamis (15/1/2026) malam, Agus melapor ke Polda Jambi. Dia datang membawa hasil visum dan didampingi kakak kandungnya, Nasir. Sekira lima jam, Agus menjalani pemeriksaan.
Dia melaporkan aksi penganiayaan yang dialaminya. “Adik saya dirugikan secara mental dan psikis, apalagi setelah videonya viral. Sudah ada visum dan bekas lebam,” kata Nasir. Agus mengaku mengalami luka lebam di wajah, tangan, dan punggung, serta trauma.
Laporan polisi itu ditujukan kepada beberapa siswa yang terekam dalam video viral.
Sekolah Lakukan Mediasi
Sehari pascakejadian, pihak sekolah menggelar mediasi. Kepala SMKN 3 Tanjab Timur, Ranto M, memastikan kegiatan belajar mengajar kembali berjalan normal. “Benar terjadi perselisihan antara guru dan siswa. Mediasi dihadiri kepala sekolah, Babinsa, Bhabinkamtibmas, camat, lurah, ketua komite, serta pihak siswa dan guru,” ujar Ranto, Rabu (14/1/2026).
Dia mengimbau masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum tentu benar.
Ketua OSIS Minta Maaf, Minta Guru Dipindah
Dalam video yang diunggah akun Instagram lokal Jambi, Ketua OSIS SMKN 3 Berbak mewakili siswa menyampaikan permintaan maaf atas insiden tersebut. Namun, dia juga menyebut para siswa meminta Agus Suparta dipindahkan. “Kami hanya ingin beliau dipindahkan ke tempat lain karena kami tidak nyaman,” katanya, seraya menyebut guru tersebut kerap menindas siswa.
Tanggapan Gubernur Jambi
Gubernur Jambi, Al Haris, turut bereaksi. Dia menegaskan, jika guru terbukti bersalah, maka akan diberikan sanksi. Namun, siswa juga tidak dibenarkan menghakimi guru dengan kekerasan. “Kalau gurunya salah akan kita tindak. Tapi siswa tidak boleh main hakim sendiri. Masalah ini harus diselesaikan secara kekeluargaan,” kata Al Haris, Kamis (15/1/2026).
Dia telah menginstruksikan Dinas Pendidikan Provinsi Jambi menggelar rapat mediasi dengan melibatkan orang tua, guru, camat, dan kepolisian.
Agus: Siap Dipindah Demi Keamanan
Meski telah melapor ke polisi, Agus mengaku tidak tega melihat anak didiknya berurusan dengan hukum. “Mereka ini anak didik saya. Secara psikologis masih butuh bimbingan,” katanya. Dia menyatakan siap dipindahkan jika memang keberadaannya tidak diinginkan demi kenyamanan siswa dan keselamatan dirinya.










