Banjir di Kutai Timur Terus Meluas, BPBD Aktif Lakukan Pemantauan dan Bantuan
Banjir yang terjadi di sejumlah kecamatan di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, mulai menunjukkan penyebaran yang semakin luas. Hujan lebat yang terus mengguyur sejak 6 Desember lalu memicu banjir beruntun di beberapa wilayah. Salah satu daerah yang paling parah terdampak adalah Muara Wahau. Seiring dengan perluasan banjir, BPBD Kutai Timur terus melakukan pemantauan dan distribusi bantuan logistik.
Perkembangan Banjir di Beberapa Kecamatan
Banjir pertama kali terjadi di Kecamatan Karangan pada akhir pekan lalu. Setelah itu, banjir meluas ke Kecamatan Muara Wahau pada Senin (8/12), kemudian disusul oleh Kecamatan Kongbeng dan Telen. Pada Selasa (9/12), banjir juga mulai menggenangi wilayah Kecamatan Batu Ampar. Meski banjir di Karangan telah surut, kondisi di beberapa kecamatan lain masih memprihatinkan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kutai Timur, Muhammad Naim, menjelaskan bahwa saat ini tim BPBD sedang fokus di tiga kecamatan, yaitu Kongbeng, Wahau, dan Telen. Ia menyebutkan bahwa banjir kini mulai bergeser ke Kecamatan Batu Ampar, terutama di Desa Batu Timbau dan Batu Timbau Ulu.
Wilayah Muara Wahau Paling Parah Terdampak
Di Kecamatan Muara Wahau, awalnya tujuh desa terdampak banjir. Namun, kini hanya empat desa yang masih terendam air, yaitu Nehas Liah Bing, Jak Luay, Long Wehea, serta Desa Muara Wahau yang terutama terkena dampak di akses kecamatan. Penurunan air di wilayah ini tergolong lambat karena adanya pertemuan dua aliran sungai, yakni Sungai Telen dan Sungai Muara Wahau.
Di Kecamatan Kongbeng, banjir terjadi di Desa Miau Baru, dengan sekitar 100 rumah terdampak. Sementara itu, di Telen, banjir menggenangi Desa Marah Haloq dengan total 24 rumah terdampak dan 68 rumah masih tergenang.
BPBD Mengirimkan Bantuan Logistik dan Perahu
Muara Wahau menjadi lokasi banjir terdalam, dengan ketinggian air mencapai setinggi dada orang dewasa. Untuk membantu masyarakat yang terdampak, BPBD Kutim telah mengirimkan perlengkapan siaga seperti tiga perahu, dua mesin tempel, satu perahu karet PVC, serta sejumlah pelampung (life jacket). Bantuan logistik juga telah disalurkan ke wilayah-wilayah yang terdampak banjir.
BPBD Kutai Timur terus menjalin komunikasi dan koordinasi dengan pihak kecamatan dan desa untuk memonitor situasi bencana. Mereka juga memberikan informasi perkembangan banjir secara berkala kepada warga.
Banjir Mulai Meluas ke Bengalon
Setelah banjir di Batu Ampar, kini warga Kecamatan Bengalon juga mulai merasakan dampaknya. Dari laporan relawan, sejak pukul 14.30 Wita, Rabu (10/12), air Sungai Bengalon naik ke daratan. Ada lima desa yang terdampak, antara lain Sepaso (Jalan 10 November), Jalan Sepat Sepaso Selatan, Sepaso Timur, dan Sepaso Barat. Meski arus Sungai Bengalon masih normal, tingkat air berstatus waspada sesuai data dari Unit Hidrologi dan Kualitas Air Balai Wilayah Sungai Kalimantan III.
Imbauan Kewaspadaan dari BPBD
BPBD Kutai Timur mengimbau warga bantaran sungai untuk tetap waspada terhadap bahaya binatang air seperti buaya dan ular. Mereka juga mengingatkan orang tua agar melarang anak-anak bermain di air banjir dan waspada terhadap bahaya arus listrik bagi rumah-rumah yang terendam air.
Waspadai Cuaca Ekstrem di Tiga Wilayah Kaltim
BPBD Provinsi Kalimantan Timur mewaspadai tiga wilayah yang memiliki potensi cuaca ekstrem dengan intensitas hujan sangat tinggi pada pertengahan hingga akhir Desember. Ketiga wilayah tersebut adalah Kabupaten Mahulu, Kabupaten Kutai Barat, dan Kabupaten Berau. Prediksi dari BMKG menyebutkan bahwa periode 15 hingga 22 Desember akan mengalami cuaca ekstrem.
Untuk mengantisipasi hal ini, BPBD Kaltim telah melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait dan rencana apel kesiapsiagaan provinsi akan digelar. BPBD juga terus memantau melalui Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) yang beroperasi 24 jam dengan pemutakhiran informasi setiap tiga jam.
Upaya Mitigasi dan Imbauan untuk Masyarakat
Selain itu, BPBD Kaltim juga telah memasang Early Warning System di perbatasan Mahakam Ulu dengan Malinau sebagai upaya mitigasi. Mereka mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan bergotong royong dalam pencegahan bencana. Langkah sederhana seperti membersihkan parit-parit di sekitar rumah dapat menjadi upaya penting untuk menghindari banjir.
Masyarakat juga dihimbau untuk mewaspadai potensi penyakit yang biasa muncul saat musim hujan, seperti penyakit kulit dan penyakit lain yang terkait dengan sanitasi lingkungan. BPBD Kaltim berharap masyarakat tetap waspada hingga bulan Mei, karena musim hujan di Kalimantan Timur akan berlangsung hingga waktu tersebut.












