Banjir dan Longsor di Sumatera Utara: Korban Tewas Meningkat, Bantuan Masih Tertunda
Banjir dan longsor yang melanda 12 kabupaten/kota di Sumatera Utara sejak Senin (24/11/2025) telah menewaskan 34 orang dan menyebabkan 52 lainnya dinyatakan hilang. Situasi kian memprihatinkan karena akses jalan terputus, pengungsi kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, serta bantuan logistik masih tertunda. Pemerintah pusat melalui Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah melakukan berbagai upaya untuk menangani bencana ini.
Posko nasional didirikan di Tapanuli Utara sebagai pusat logistik udara untuk mempercepat penanganan darurat di wilayah yang terdampak. Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri, Safrizal ZA, menjelaskan bahwa koordinasi intensif dilakukan agar masa tanggap darurat dapat berjalan secara maksimal dan terarah. Ia mengatakan bahwa tim Kemendagri sudah berada di Taput dan melakukan koordinasi langsung dengan bupati serta aparat keamanan setempat.
BNPB menjadwalkan penerbangan pesawat caravan charter pada Kamis (27/11) pukul 10.00 WIB untuk meninjau kondisi di Sibolga dan Tapanuli Tengah sekaligus mengirimkan bantuan darurat. Namun, helikopter yang membawa logistik baru bisa mendarat pada Jumat (28/11) sekitar pukul 16.00 WIB. Hal ini disebabkan oleh kondisi cuaca yang tidak menentu dan hujan deras yang belum berhenti.
Tim gabungan dari TNI, Polri, BPBD, dan Satpol PP sudah diturunkan untuk melakukan evakuasi di beberapa titik terdampak. Namun, pencarian korban yang hilang masih terhambat oleh kondisi medan yang sulit dan cuaca ekstrem. Kasi Humas Polres Taput, Aiptu Walpon Baringbing, menyebutkan bahwa tim di lapangan masih mencari para korban yang hilang di sejumlah lokasi longsor yang sulit dijangkau.
Berdasarkan laporan dari media setempat, para pengungsi mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, dan akses komunikasi. Mereka juga menyebut padamnya listrik dan terputusnya jalan membuat distribusi bantuan sangat terhambat. Akibatnya, situasi di posko pengungsian semakin memprihatinkan.
BNPB menjelaskan bahwa curah hujan tinggi yang memicu banjir dan longsor dipengaruhi oleh Siklon Tropis KOTO dan bibit siklon 95B. Fenomena hidrometeorologi ini memperluas potensi bencana di wilayah Sumatera Utara, termasuk di Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan.
Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 300.2.8/9333/SJ pada 18 November 2025 tentang kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi. Langkah konsolidasi kemudian dilakukan melalui rapat koordinasi virtual pada 21 November 2025 yang diikuti BPBD, Satpol PP, dan Dinas Pemadam Kebakaran dari berbagai daerah.
Warga di Taput kini masih bertahan di lokasi pengungsian dengan keterbatasan logistik, menunggu bantuan tiba di tengah akses jalan yang terputus dan hujan deras yang belum juga berhenti. Meski upaya penanganan sedang dilakukan, kondisi ini menunjukkan betapa besar dampak dari bencana alam yang terjadi di wilayah tersebut.
Upaya Penanganan Darurat dan Tantangan yang Dihadapi
- Koordinasi Intensif: Tim Kemendagri dan BNPB bekerja sama untuk memastikan penanganan darurat berjalan efektif.
- Penerbangan Pesawat Charter: BNPB akan mengirimkan bantuan darurat melalui pesawat caravan charter pada 27 November.
- Helikopter Logistik: Helikopter yang membawa logistik hanya bisa mendarat pada 28 November, karena kondisi cuaca dan medan yang sulit.
- Evakuasi Korban: Tim gabungan TNI, Polri, BPBD, dan Satpol PP dikerahkan untuk evakuasi, namun proses pencarian korban terhambat oleh cuaca dan medan.
- Kondisi Pengungsi: Para pengungsi mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar akibat jalan terputus dan bantuan yang tertunda.
Peran Cuaca Ekstrem dalam Bencana
- Siklon Tropis KOTO dan Bibit Siklon 95B: Faktor utama yang memicu curah hujan tinggi dan meningkatkan risiko bencana.
- Wilayah Terdampak: Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan menjadi wilayah yang paling terkena dampak.
- Surat Edaran Kesiapsiagaan: Menteri Dalam Negeri telah mengeluarkan surat edaran untuk meningkatkan kesiapan menghadapi bencana hidrometeorologi.
Kondisi Terkini di Lokasi Pengungsian
- Keterbatasan Logistik: Pengungsi masih kesulitan mendapatkan makanan, pakaian, dan akses komunikasi.
- Padamnya Listrik dan Jalan Terputus: Kondisi ini memperparah kesulitan dalam distribusi bantuan.
- Hujan Deras yang Berlangsung: Hujan yang belum berhenti membuat situasi semakin memprihatinkan.












