Penjelasan Sahroni Mengenai Isu “Black Mamba” yang Viral
Sahroni, anggota DPR RI, menyangkal tudingan bahwa benda yang viral di media sosial dan disebut sebagai miliknya adalah benar-benar miliknya. Ia menyatakan bahwa isu tersebut adalah hoaks yang sengaja dibuat untuk merusak reputasinya. Menurut Sahroni, pihak-pihak tertentu berusaha memojokkannya dengan mengungkapkan informasi palsu.
Ia juga menyebut bahwa isu ini merupakan serangan sistematis yang bertujuan untuk menjatuhkan nama baiknya. Bahkan, anak-anaknya turut menjadi korban dari pemberitaan yang tidak akurat. Mereka mengalami bullying karena tuduhan-tuduhan yang tidak benar.
Diketahui, saat penjarahan terjadi di rumah Sahroni, beberapa barang mencurigakan muncul di media sosial. Salah satunya adalah benda berwarna hitam yang diberi julukan “Black Mamba”. Benda tersebut diduga digunakan untuk keperluan seksual. Hal ini membuat Sahroni merasa difitnah dan merasa reputasinya hancur.
“Diduga ada pihak-pihak yang memang sengaja merencanakan pemojokan karakter Ahmad Sahroni. Ada alat-alat yang dipakai sekelompok orang untuk menghajar gua. Ini alat loh, alat gede yang dipakai,” kata Sahroni dalam tayangan YouTube Total Politik.
Menurutnya, isu tentang “Black Mamba” itu muncul pada tahun 2020 di Lebanon. Ia mengaku kaget karena dituduh memiliki benda tersebut. “Itu kan serangan sistematis, bersamaan. Sengaja dibuat hoaks,” tambahnya.
Sahroni juga menyebut bahwa serangan hoaks terhadap dirinya tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri, tetapi juga pada anak-anaknya. Mereka mengalami bullying dan dihujat dengan kata-kata kasar.
“Kasian juga mereka, dua-duanya (anak) di-bully. Dihujat anak haram lah, jahaham. Bayangin, ya Allah ya Tuhan bahasanya,” ujarnya.
Detik-Detik Saat Rumahnya Di Jarah
Sebelumnya, Sahroni pernah menceritakan pengalamannya saat rumahnya dijarah. Ia mengakui bahwa ia sempat bersembunyi dan bahkan sampai jatuh dari plafon. Untuk menghindari identitasnya diketahui, ia nekat melumuri wajahnya dengan debu.

Rumah Sahroni yang terletak di Tanjung Priok, Jakarta Utara, dirusak dan isinya dijarah oleh massa pada Sabtu (30/8/2025). Massa datang ke lokasi sekitar pukul 15.00 WIB. Kekesalan massa dilampiaskan dengan melempari rumah dengan batu dan benda lainnya.
Sahroni mengungkap bahwa saat kejadian, ia sedang berada di dalam rumah. Namun, ia sengaja bersembunyi dan membuat wajahnya tidak mudah dikenali.
“Saya kasih debu dan sebelumnya saya ngumpet di atas plafon. Plafonnya enggak kuat saya jatuh. Akhirnya plafonnya saya ancurin sekalian tapi pintu kamar mandinya saya buka,” jelasnya seperti dikutip dari Instagram Lambe Turah.
Menurut Sahroni, kehilangan barang-barang pribadi cukup banyak. “Kebayang enggak? Kolor diambil. Gosok gigi diambil,” ujarnya.
Pemohon Maaf dan Tudingan Korupsi
Karena kasus penjarahan rumahnya sudah masuk ranah hukum, Sahroni meminta maaf kepada tetangganya jika ada anak atau saudara yang tertangkap dalam aksi penjarahan tersebut.
“Bapak ibu mohon maaf sebelumnya kalau ada tetangga anaknya ditangkep polisi saya enggak tahu menahu karena ikut serta menjarah di rumah ini,” katanya.
Selain itu, Sahroni juga membantah tudingan bahwa dirinya korupsi. Ia menyatakan bahwa dirinya tidak pernah melakukan korupsi. “Saya alhamdulilah tidak korupsi. Tapi dianggap rumah ini adalah duit rakyat dari hasil pajak. Saya yakin tuh, orang-orang yang teriak itu boro-boro bayar pajak. Pasti nunggu sembako juga.”
Ia menambahkan bahwa konteks politik di ruang publik sering kali diframing oleh orang yang tidak memahami kondisi secara utuh. “Sayang bapak, ibu. Konteks politik di dalam ruang publik ini, di-framing orang yang enggak ngerti kondisinya,” katanya.










