Pengertian Qana’ah dalam Perspektif Agama dan Kehidupan
Qana’ah merupakan salah satu konsep penting dalam agama dan kehidupan sehari-hari. Dalam bahasa Indonesia, qana’ah sering diartikan sebagai orang-orang yang merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Konsep ini berasal dari akar kata qani’a-yaqna’, yang berarti merasa puas dengan apa yang ada dan menerima jatah kenyataan yang datang dari Allah SWT, tanpa memperhatikan bentuknya.
Para ahli hakekat menggambarkan qana’ah sebagai sikap tenang dalam menghadapi hilangnya sesuatu yang biasanya ada. Dikatakan juga bahwa qana’ah adalah merasa cukup dengan apa yang sedikit, atau bahkan merasa kaya dengan apa yang ada. Sebaliknya, rakus adalah lawan dari qana’ah. Rakus adalah seseorang yang tidak pernah merasa puas, meskipun memiliki banyak harta. Meski penampilannya kelihatan mewah, hati dan pikirannya justru sangat miskin.
Beberapa ulama tafsir memberikan pendapat tentang ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan qana’ah. Misalnya, dalam ayat:
“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. al-Nahl/16:97).
Dalam ayat ini, hayatan thayyibah (kehidupan yang baik) merujuk pada qana’ah. Begitu juga dalam ayat:
“Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka dibunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki.” (Q.S. al-Hajj/22:58).
Kata rizqan hasanan (rezeki yang baik) dalam ayat ini juga merujuk pada qana’ah. Hal ini ditegaskan kembali dalam ayat lain:
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Q.S. al-Ahdzab/33:33).
Kata al-rijz dalam ayat ini merujuk pada kekikiran dan kerakusan, sementara wayuthahirakum tathhiran (membersihkan kamu sebersih-bersihnya) dilakukan melalui dermawan dan qana’ah. Beberapa ahli hikmah menyebutkan bahwa cara membersihkan diri adalah dengan sikap dermawan dan lemah lembut.
Dalam beberapa ayat lain, seperti:
“Kami akan membantumu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak dapat mencapaimu; (berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mukjizat Kami, kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang menang”. (Q.S. al-Qashash/28:35).
Ayat ini menegaskan bahwa qana’ah menjadi bagian dari kekuatan spiritual. Dalam hadis Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda:
“Qana’ah merupakan perbendaharaan yang tak pernah akan habis.”
Hadis lainnya menyebutkan:
“Ridhailah apa yang diberikan Allah kepadamu, niscaya kamu akan menjadi manusia yang paling kaya.”
Dalam Kitab Zabur disebutkan bahwa orang yang qana’ah adalah orang yang kaya walaupun dalam keadaan kelaparan. Para ahli hikmah menjelaskan bahwa barangsiapa yang memiliki qana’ah yang tebal, maka setiap bulu di tubuhnya akan merasakan kebahagiaan. Orang yang qana’ah merasa tenang dari kesibukan dan berhasil mengatasi segala sesuatu. Qana’ah tidak selalu berarti menjauhkan diri dari kesibukan.
Ahli hakikat juga menyampaikan bahwa barangsiapa yang mengarahkan pandangannya kepada apa yang ada pada orang lain, maka ia akan memperpanjang kesedihannya. Orang yang qana’ah memiliki persepsi positif terhadap segala sesuatu, bahkan jika itu kadang merugikan dirinya sendiri.
Ia selalu sadar bahwa kekayaan yang paling sejati adalah kepuasan batin (al-gina gina al-nafs). Banyak orang yang memiliki harta banyak tidak otomatis merasa bahagia. Justru orang yang qana’ah-lah yang akan merasakan kekayaan hakiki itu.












