Penjelasan Kementerian Komdigi tentang Sistem IGRS di Steam
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah memberikan penjelasan terkait tampilan rating Indonesia Game Rating System (IGRS) pada sejumlah gim yang tersedia di platform Steam. Menurut kementerian, hal tersebut bukanlah hasil dari klasifikasi resmi pemerintah. Direktur Pengembangan Ekosistem Digital dari Direktorat Jenderal Ekosistem Digital Komdigi, Sonny Hendra Sudaryana, menjelaskan bahwa saat ini Steam belum terhubung dengan sistem IGRS.
“Jadi ada dua website, yaitu milik IGRS dan Steam. Keduanya belum saling terhubung. Mereka melakukan self assessment, tadi pagi mereka mengirim email meminta maaf karena ada miskomunikasi,” ujar Sonny saat ditemui di Gedung Kementerian Komdigi, Senin (6/4).
Sonny menambahkan bahwa Steam melewatkan satu langkah penting setelah melakukan self assessment. Menurutnya, Steam perlu menyampaikan hasil penilaian mandiri tersebut kepada Kementerian Komdigi sebelum menggunakan label rating usia dari IGRS. Saat ini, masih dalam tahap uji coba dan belum ada MoU resmi antara pihak Steam dan Kementerian Komdigi.
Tujuan dan Proses Sistem IGRS
Sistem IGRS dirancang untuk memudahkan gim-gim di Indonesia yang ingin masuk ke pasar Eropa, begitu juga sebaliknya. Namun, proses singkronisasi di setiap negara tetap diperlukan. “Kita akan connect ke International Age Rating Coalition. Termasuk ke platform-platform seperti Google dan Apple juga sama,” jelas Sonny.
Menurut dia, platform game di Indonesia harus melewati tahapan rating logic yang perlu disinkronisasi. Masalah utama terletak pada rating logic Steam yang bersifat self-assessment. Nantinya, akan ada tim verifikasi dari Kementerian Komdigi untuk memastikan validitasnya. “Indonesia lebih konservatif. Di Indonesia usia 18 tahun, sedangkan di Eropa 15 tahun. Hal ini dipengaruhi oleh faktor budaya,” tambah Sonny.
Regulasi yang Mengatur Perlindungan Pengguna
Pemerintah sebelumnya menegaskan bahwa setiap penyelenggara sistem elektronik wajib menyampaikan informasi yang akurat, jelas, dan tidak menyesatkan. Selain itu, mereka juga wajib memastikan perlindungan pengguna. Aturan ini diatur dalam beberapa regulasi, antara lain:
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2024 (Revisi UU ITE), yang menegaskan kewajiban perlindungan anak dalam sistem elektronik;
- Permen Kominfo Nomor 2 Tahun 2024 tentang Klasifikasi Gim, yang mewajibkan pencantuman hasil klasifikasi yang resmi;
- Permen Kominfo Nomor 5 Tahun 2020 tentang Penyelenggara Sistem Elektronik Lingkup Privat.
Berdasarkan ketentuan tersebut, Kementerian Komdigi menilai ada indikasi ketidaksesuaian antara informasi yang ditampilkan dengan ketentuan yang berlaku di Indonesia. Hal ini mencakup penayangan rating yang tidak resmi serta penggunaan label IGRS tanpa verifikasi resmi.
Kontroversi Sistem IGRS di Steam
IGRS merupakan sistem klasifikasi usia dan konten untuk permainan video yang diresmikan oleh Kementerian Komdigi. Tujuannya adalah untuk memastikan gim sesuai dengan target umur dan norma lokal. Sistem ini diintegrasikan ke platform untuk membagi gim ke dalam beberapa kategori:
- Usia di atas 3 tahun
- Usia di atas 7 tahun
- Usia di atas 13 tahun
- Usia di atas 15 tahun
- Usia di atas 18 tahun
- Refused Classification (RC): Mengandung unsur pornografi hingga perjudian dengan menggunakan alat pembayaran yang sah. Tidak dapat diedarkan di Indonesia.
Namun, sistem ini menuai kontroversi. Publik mulai mengungkapkan keresahan karena banyak temuan ketidaksesuaian label usia pada judul-judul gim yang populer di Steam. Contohnya, gim bernuansa dewasa seperti Nukitashi mendapatkan klasifikasi 3+, sedangkan gim naratif lokal seperti A Space for the Unbound dilabeli 18+.
CEO Toge Productions, Kris Antoni, sempat mengkritik pemberlakuan sistem ini. Menurutnya, mekanisme yang ada merugikan ekosistem industri gim. “Sistem Rating Game Indonesia memberi label gim dengan konten seksual dewasa sebagai gim yang cocok untuk usia 3 tahun ke atas. Sementara gim pemenang penghargaan seperti Claire Obscure dan Metal Gear Solid Delta diberi label tidak layak untuk didistribusikan di Indonesia,” kata Kris melalui akun X pribadinya @krisssakti, Minggu (5/4).
Kritik dan Pertanyaan terhadap Standar Penilaian
Keresahan terkait pemberian label dari IGRS juga banyak dikritik oleh pengguna hingga komunitas gim nasional. Pengguna Steam menemukan seperti gim olahraga paling mencolok seperti EA Sports FC mendapatkan label 18+. Sementara gim dengan intensitas kekerasan tinggi seperti PUBG Battlegrounds atau Call of Duty mendapatkan label 3+ yang seharusnya ditujukan untuk anak-anak.
Akun Instagram @direktorigim mengkritik eksekusi sistem IGRS dinilai berantakan. Selain itu juga mengundang tanda tanya besar terkait standar penilaian yang digunakan. Standar kurasi IGRS dinilai tampak cacat logika secara fundamental. “Sangat konyol melihat game bernarasi kritik politik sekelas Metaphor: ReFantazio dicekik dengan status penolakan maksimal (label RC), sementara gim bermuatan kekerasan brutal atau bahkan eroge justru diloloskan dengan rating anak balita,” tulis akun media komunitas yang fokus pada permainan digital itu, Minggu (5/4).
Direktori Gim juga mempertanyakan indikator yang jelas untuk sebuah gim yang layak mendapatkan status RC. Ketidakjelasan parameter ini dinilai membuat developer dan pemain kebingungan.
Pladidus Santoso dari Kokang Gaming sempat mewawancarai tim IGRS pada acara IGDX 2025. Menurut tim IGRS, gim yang mendapat rating RC tidak akan langsung mati kutu. “Publisher dan developer diizinkan mengubah konten yang dianggap sebagai sumber masalah, melewati proses penilaian ulang, sebelum akhirnya bisa rilis di Indonesia,” tulis Direktori Gim.
Direktori Gim juga menyoroti dampak buruk dari ketidakjelasan sistem rating dari insiden di Jerman pada 15 November 2024. Sekitar 23 ribu gim lenyap dari etalase Steam di wilayah tersebut dan penghapusan massal ini terjadi murni karena masalah kepatuhan terhadap regulasi rating usia yang baru, bukan karena pemblokiran konten secara spesifik.
Beban birokrasi ini akan memicu efek domino yang merugikan banyak pihak. Mengedit, memotong, atau bahkan total sebuah game khusus untuk satu pasar tertentu memakan biaya dan waktu yang sangat besar.
“Jika regulasi yang ada hanya menciptakan kebingungan, mengancam ketersediaan puluhan ribu game di Steam, dan membuat publisher enggan melirik pasar lokal, maka sistem ini lebih baik ditiadakan sama sekali daripada terus-terusan mempersulit komunitas gamer Indonesia,” tulis Direktori Gim.












