Kunjungan Panglima Jilah ke Kediaman Mantan Presiden Jokowi
Pada 5 Maret 2026, Panglima Jilah mengunjungi kediaman mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Solo. Tujuan dari kunjungan ini adalah untuk menagih janji pembangunan Dayak Center di Ibu Kota Nusantara (IKN), yang diharapkan dapat memperkuat budaya dan ekonomi masyarakat Dayak.
Dayak Center akan menjadi pusat budaya dan ekonomi yang mencakup galeri UMKM, tarian, serta tradisi Dayak. Proyek ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan perekonomian lokal, tetapi juga untuk melestarikan seni dan warisan budaya masyarakat Dayak.
Panglima Jilah, yang lahir pada tahun 1980, merupakan pemimpin Pasukan Merah TBBR dan simbol perjuangan masyarakat Dayak. Dalam kunjungannya, ia menyampaikan bahwa pembangunan Dayak Center akan segera direalisasikan. Ia menjelaskan bahwa proyek ini akan dilaksanakan dalam waktu dekat atau pada tahun berikutnya.
“Dalam rangka pembangunan IKN, terutama khusus untuk Dayak Center agar itu segera direalisasikan. Karena kita warga Dayak sudah menunggu bagaimana Dayak Center itu berdiri di IKN,” ujar Panglima Jilah.
Selain itu, Dayak Center akan menjadi tempat yang mendukung perekonomian masyarakat Dayak melalui galeri UMKM. Selain itu, berbagai tarian dan tradisi Dayak akan ditampilkan, sehingga sangat membantu perekonomian masyarakat setempat.
Siapa Panglima Jilah?
Panglima Jilah dikenal dengan nama Pangalangok Jilah. Nama asli dari sosok ini adalah Agustinus Jilah, seorang tokoh yang kini menjadi simbol perjuangan masyarakat Kalimantan, khususnya suku Dayak.
Panglima Jilah lahir pada 19 Agustus 1980 di Desa Sambora, Kecamatan Toho, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Indonesia. Dari masa kecil yang penuh perjuangan hingga menjadi seorang pemimpin yang dihormati, perjalanan hidupnya penuh dengan kisah inspiratif.
Latar Belakang Keluarga dan Kehormatan Warisan Kerajaan
Panglima Jilah bukanlah sosok yang tiba-tiba muncul. Ia adalah cucu dari seorang panglima yang sangat terpandang pada masa kejayaan kerajaan Dayak. Maka tidak heran jika ia memperoleh tempat yang sangat dihormati oleh masyarakat Dayak, dan bahkan masyarakat luas di Pulau Kalimantan.
Sebagai penerus dari leluhurnya yang terhormat, Panglima Jilah berdiri di barisan terdepan dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat yang terancam, bahkan rela mengorbankan dirinya demi keadilan.
Perjalanan Hidup yang Penuh Rintangan
Masa kecil Panglima Jilah tak bisa dibilang mudah. Ia memiliki kelainan yang membuatnya berbeda dari anak-anak lainnya. Lidahnya sering keluar, perut buncit, dan ia juga mengalami kesulitan dalam berbicara (gagap). Namun, meskipun menghadapi tantangan tersebut, Panglima Jilah tidak menyerah.
Dengan tekad kuat dan semangat juang yang diwarisi dari para leluhurnya, ia berhasil mengatasi hambatan-hambatan tersebut dan akhirnya menjadi pribadi yang sangat dihormati. Kini, setelah melalui perjalanan panjang dan penuh rintangan, Panglima Jilah tidak hanya dikenal karena keberaniannya, tetapi juga karena sifat rendah hati dan kepeduliannya terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar.
Pimpinan Pasukan Merah yang Disegani
Sebagai Pimpinan Pasukan Merah Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR), Panglima Jilah memimpin lebih dari 44 ribu pasukan. Pasukan ini dikenal sebagai garda terdepan dalam memperjuangkan keadilan dan melestarikan budaya serta adat istiadat masyarakat Dayak.
Dengan kemampuan oratorinya yang mumpuni, Panglima Jilah sering memimpin pasukan dalam berbagai aksi yang bertujuan untuk menuntut hak-hak masyarakat, terutama yang berkaitan dengan tanah leluhur dan adat istiadat yang terancam.












