Lonjakan Harga Plastik Mengubah Strategi Usaha di Bandung
Kenaikan harga plastik hingga 30–40 persen memberikan dampak signifikan terhadap pelaku usaha di Bandung, khususnya di sektor kuliner. Salah satu contohnya adalah Ju-e Kopi, sebuah kafe yang berada di Kawasan Taman Cibeunying. Untuk mengatasi lonjakan biaya tersebut, Ju-e Kopi mulai meminta pelanggan membawa tumbler atau wadah minum sendiri.
Dampak Kenaikan Harga Plastik pada Operasional
Menurut Irfan Fitra Fauzan, pengelola Ju-e Kopi, kenaikan harga plastik sangat terasa dalam operasional harian. Sebelumnya, satu pack cup plastik yang berisi 50 pcs dijual sekitar Rp20.000, namun kini naik menjadi Rp30.000. Dalam sehari, kebutuhan cup bisa mencapai tiga hingga empat pack, sehingga kenaikan harga ini sangat terasa.
“Sehari bisa habis sampai empat toros. Jadi kerasa banget kalau harga naik,” ujar Irfan.
Meski saat ini margin keuntungan masih relatif aman karena bahan lain belum mengalami kenaikan serupa, Irfan tetap menyarankan untuk mencari alternatif. Beberapa opsi yang sedang dipertimbangkan antara lain:
- Penggunaan cup kertas yang harganya cenderung lebih stabil.
- Peralihan ke gelas kaca untuk pelanggan yang makan di tempat.
Namun, penggunaan gelas kaca memiliki beberapa tantangan, seperti biaya dan risiko kerusakan. “Gelas kacanya harus bagus agar tidak mudah pecah, belum custom per gelas untuk ada tulisan brand bisa memakan budget Rp20-30 ribu per gelas,” jelas Irfan.
Kesadaran Lingkungan dan Perubahan Pola Konsumen
Meski kesadaran akan pengurangan sampah plastik mulai terlihat, terutama di kalangan konsumen yang lebih dewasa, sebagian besar pelanggan masih bergantung pada kemasan sekali pakai. Menurut Irfan, hanya sekitar 20 persen pelanggan yang membawa tumbler pribadi. Namun, alasan mereka membawa tumbler bukan selalu karena lingkungan, melainkan karena ingin muat lebih banyak.
“Rata-rata mereka bawa ukuran 750 ml,” tambahnya.
Irfan berharap harga plastik dapat kembali stabil, serta adanya dukungan pemerintah dalam pengelolaan dan daur ulang limbah plastik. “Kalau sistem daur ulangnya berjalan baik, plastik bisa dipakai kembali tanpa harus terus impor bahan baru,” tuturnya.
Upaya Alternatif untuk Mengurangi Penggunaan Plastik
Selain itu, Ju-e Kopi juga mulai menyediakan cup kertas sebagai alternatif. “Kami juga menyediakan cup kertas yang masih belum naik, jadi bisa jadi alternatif. Tapi kalau plastik makin mahal, kemungkinan bisa beralih semua ke kertas,” tambah Irfan.
Dengan semakin tingginya biaya plastik, pelaku usaha seperti Ju-e Kopi terpaksa mencari solusi yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Meskipun ada tantangan, langkah-langkah ini diharapkan dapat membantu menjaga keberlanjutan bisnis sambil tetap memperhatikan isu lingkungan.
Masa Depan Penggunaan Bahan Ramah Lingkungan
Irfan menyadari bahwa branding dan identitas merek juga penting dalam bisnis. “Cup plastik ini dibuat ada custom nama Ju-e Kopi. Salah satu ciri khas dan branding juga. Kalau penggunaan gelas kaca juga kita ada, tapi polosan enggak custom nama.”
Untuk masa depan, Ju-e Kopi tetap berusaha mempertahankan branding sambil mencari solusi yang lebih ramah lingkungan. Dengan peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya daur ulang dan pengurangan sampah plastik, diharapkan pelaku usaha dapat terus berinovasi tanpa mengorbankan kualitas dan identitas merek.












