Yusuf Tankin Selamat Setelah Terjebak 38 Jam di Kapal Tugboat yang Terbalik
Yusuf Tankin (57) masih terbaring di ruang perawatan RS Mutiara Aini Batam. Selang oksigen menempel di wajahnya, sementara kabel monitor berdetak pelan mengikuti irama jantungnya. Meski kondisinya masih lemah, matanya kini lebih tenang dibanding beberapa hari lalu. Ia baru saja melewati momen paling menegangkan dalam hidupnya: terjebak di dalam kapal Tugboat Mega yang terbalik di perairan kawasan PT ASL Shipyard, Tanjung Uncang, Batu Aji, Batam.
Selama hampir 38 jam, ia bertahan di dalam gelap, hanya dengan sedikit udara dan kekuatan untuk bertahan hidup. Pada Minggu (8/3/2026), Wakil Gubernur Kepulauan Riau Nyanyang Haris Pratamura datang menjenguknya. Di hadapan rombongan pemerintah daerah, Yusuf menceritakan kembali detik-detik ketika kapal tempatnya bekerja tiba-tiba miring.
Detik-Detik Kapal Terbalik
Pada Jumat 6 Maret 2026 sekira pukul 15.00 WIB, insiden terjadi di perairan PT ASL Shipyard. Tugboat Mega sedang membantu manuver kapal besar yang sandar di area galangan. Menurut Yusuf, kapal yang di-assist memiliki ukuran sekitar 255 GT, sehingga membutuhkan bantuan saat hendak sandar. Ada sekitar lima kapal tunda yang ikut membantu proses tersebut, dengan Tugboat Mega menjadi kapal berukuran paling kecil.
Saat proses manuver berlangsung, Master Jetty memberikan instruksi kepada Tugboat Mega untuk berpindah posisi. Kapal mereka berada di sisi kiri kapal besar dan diminta untuk bergeser ke sisi kanan. Namun, saat kapal mulai bergerak, tiba-tiba Tugboat Mega mengalami benturan. Yusuf menduga kapal mereka terkena hantaman dari bagian buritan kapal besar yang sedang dibantu.
Benturan tersebut membuat kapal kehilangan keseimbangan dan mulai miring. Dalam hitungan detik, kapal pun terbalik. Yusuf sempat menelan air laut saat kapal terguling. Dalam kondisi panik, ia berusaha menyelamatkan diri dengan berlari menuju kamar di bagian bawah kapal. Ia berniat melompat keluar, namun tidak sempat karena kapal sudah lebih dulu terbalik.
Bertahan di Kantong Udara
Di ruang mesin kapal, Yusuf menemukan celah kecil yang masih menyisakan udara—sebuah kantong udara (air pocket) yang menjadi satu-satunya harapan hidupnya. Di sanalah ia bertahan. Gelap, sempit, dan tanpa kepastian kapan pertolongan datang.
Sementara di luar, tim SAR gabungan bekerja keras mencari korban. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Tanjungpinang, Fazzli, mengatakan sejak awal tim menduga masih ada korban yang terjebak di dalam kapal. Karena itu proses evakuasi dilakukan hati-hati, termasuk upaya membalikkan kapal menggunakan peralatan khusus.
“Setelah kapal berhasil dibalikkan, tim melakukan penyelaman ke dalam lambung kapal. Korban akhirnya ditemukan di ruang mesin,” ujar Fazzli. Di ruang itulah tim penyelam menemukan Yusuf, masih hidup. “Alhamdulillah masih ada air pocket yang memungkinkan korban bertahan,” katanya.
Yusuf kemudian dievakuasi dan langsung dilarikan ke RS Mutiara Aini Batam untuk mendapatkan perawatan medis. Insiden tersebut melibatkan lima kru kapal. Dua orang dinyatakan selamat, sementara tiga lainnya meninggal dunia. Kini Yusuf masih menjalani pemulihan. Selang oksigen dan infus masih menempel di tubuhnya. Namun napasnya tetap ada, napas yang selama 38 jam ia jaga di dalam perut kapal yang terbalik.
Peran Petugas Pandu dan Proses Manuver
Menurut Yusuf, saat kejadian tidak ada petugas pandu di kapal Tugboat Mega. Kapal hanya diawaki oleh kapten dan sejumlah kru. Petugas pandu saat itu berada di kapal besar yang sedang dibantu, sedangkan pergerakan kapal-kapal tunda di lokasi diatur oleh Master Jetty dari dermaga.
Insiden tersebut terjadi begitu cepat, hingga para kru tidak memiliki banyak waktu untuk menyelamatkan diri sebelum kapal akhirnya terbalik. Dari lima kru yang berada di dalam Tugboat Mega, tiga di antaranya ditemukan meninggal dunia, termasuk kapten kapal tak lama setelah kejadian, Jumat sore. Sementara dua kru lainnya selamat. Satu orang tak lama setelah kejadian, satu lagi Yusuf Tankin, setelah 38 jam bertahan di dalam kapal, Minggu pagi.










