Kondisi Pasar Obligasi Indonesia di Tengah Ketidakpastian Global
Pasar obligasi Indonesia saat ini menghadapi berbagai tekanan akibat meningkatnya ketidakpastian global. Hal ini terlihat dari kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) serta peningkatan premi risiko gagal bayar Indonesia sejak awal tahun 2026. Kondisi ini menunjukkan bahwa investor semakin waspada terhadap situasi ekonomi dan fiskal negara.
Tekanan Bertubi-tubi yang Mempengaruhi Yield SBN
Menurut Global Market Economist Myrdal Gunarto, tekanan terhadap pasar obligasi datang secara bertubi-tubi. Hal ini memicu kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah sebagai kompensasi risiko. Investor cenderung bersikap wait and see, melihat perkembangan kondisi global saat ini. Salah satu faktor utama yang menyebabkan tekanan adalah konflik geopolitik antara Iran dengan Israel dan AS.
Dari data riset, yield SBN tenor 10 tahun berada di level 6,59% per 8 Maret 2026, naik dibandingkan posisi 6,11% pada Desember 2025. Sementara itu, yield SBN tenor 5 tahun mencapai 6%, meningkat dari 5,53% pada Desember 2025.
Di sisi lain, Credit Default Swap (CDS) Indonesia juga mengalami kenaikan. Pada 8 Maret 2026, CDS Indonesia berada di level 86,53 basis poin, naik dari 76,06 basis poin pada awal tahun dan melonjak dari 68,26 basis poin pada Desember 2025. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya kewaspadaan pasar terhadap kondisi fiskal dan ekonomi Indonesia.
Minat Investor yang Menurun dalam Lelang SBN
Minat investor terhadap lelang Surat Utang Negara (SUN) juga menurun sejak awal tahun. Contohnya, pada lelang SUN kelima tahun ini yang digelar 3 Maret 2026, pemerintah menargetkan penerbitan Rp 33 triliun. Total penawaran yang masuk (incoming bids) tercatat Rp 50,94 triliun, namun pemerintah hanya menyerap Rp 34,1 triliun.
Angka ini lebih rendah dibandingkan lelang sebelumnya pada 18 Februari 2026, ketika incoming bids mencapai Rp 63 triliun dan pemerintah menyerap Rp 40 triliun. Tren penurunan minat investor sudah terlihat sejak awal tahun, dengan incoming bids pada lelang pertama 6 Januari 2026 mencapai Rp 90,9 triliun, kemudian turun menjadi Rp 82,9 triliun pada lelang 20 Januari 2026, dan seterusnya.
Dampak Harga Energi Dunia
Selain itu, kenaikan harga energi dunia juga memperbesar tekanan di pasar keuangan. Penutupan Selat Hormuz serta tensi perang yang tinggi mendorong harga minyak dunia melonjak hingga di atas US$ 90 per barel. Kondisi ini membuat investor melakukan kalkulasi terkait langkah pemerintah Indonesia, terutama terkait pengelolaan fiskal di tengah kenaikan harga BBM global.
Perubahan Struktur Belanja Pemerintah
Myrdal juga menilai tekanan datang dari lembaga internasional yang masih menyesuaikan diri dengan ritme pemerintahan baru di Indonesia. Sebagian investor masih ragu melihat perubahan struktur belanja pemerintah dibandingkan periode sebelumnya. Fokus kebijakan yang sebelumnya lebih banyak diarahkan pada pembangunan infrastruktur fisik, kini lebih menitikberatkan pada program peningkatan kualitas sumber daya manusia, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Strategi untuk Memulihkan Minat Investor
Myrdal menyarankan pemerintah melakukan pendekatan yang lebih tersegmentasi kepada investor yang memiliki kepercayaan kuat terhadap Indonesia, salah satunya dari Jepang. Beberapa lembaga pemeringkat Jepang bahkan memberikan prospek dan peringkat rating yang lebih baik terhadap Indonesia dibandingkan lembaga pemeringkat global seperti Moody’s maupun Fitch Ratings.
Selain itu, pemerintah dapat mengandalkan pasar domestik untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan jangka pendek, meskipun langkah tersebut tetap perlu dijaga agar tidak menimbulkan risiko crowding out. Myrdal memperkirakan kebutuhan pembiayaan pemerintah dari lelang SBN dan sukuk bisa mencapai sekitar Rp 100 triliun per bulan atau sekitar US$ 6 miliar.
Jika strategi tersebut berjalan baik dan fundamental ekonomi Indonesia terbukti kuat, Myrdal meyakini investor global akan kembali masuk ke pasar obligasi domestik ketika tensi geopolitik mereda. Investasi global juga perlu melakukan roll over dana mereka, karena yield yang diperoleh di Indonesia lebih tinggi dibandingkan negara-negara maju.
Langkah yang Harus Dilakukan Pemerintah
Untuk menjaga arus modal ke pasar SBN, pemerintah perlu terus menunjukkan kondisi fiskal yang sehat, pengelolaan moneter yang baik, serta realisasi program prioritas pembangunan yang berjalan sesuai rencana. Dengan langkah-langkah ini, Indonesia dapat memperkuat posisi ekonominya di tengah tantangan global.












